[Al-Islam 462] Ketika gerakan Fatah didirikan pada pertengahan tahun 60-an abad yang lalu, diumumkan bahwa Fatah mengadopsi perlawanan untuk membebaskan Palestina dari sungai hingga laut. Kemudian hasilnya, sungai, laut dan daerah di antara keduanya tetap terlantar hingga sekarang! Penguasa Fatah telah memberikan pengakuan terhadap institusi Yahudi di sebagian besar wilayah Palestina. Akhirnya, Fatah berunding dengan pengaturan Amerika untuk mendirikan negara di secuil wilayah Palestina yang tersisa. Setiap kali penguasa Fatah menghadapi masalah, ia bergegas pergi ke Washington. Meski demikian, hingga hari ini, setelah perundingan panjang berjalan bertahun-tahun, penguasa Fatah tidak meraih apa-apa. Bahkan di bawah pendudukan, penguasa Fatah datang dan pergi harus dengan izin, hingga presidennya sekalipun. Ia tidak bisa melakukan perjalanan kecuali mendapat izin dari institusi Yahudi!
Kemudian Hamas didirikan dua dekade setelah Fatah. Mulailah Hamas menapaki jejak langkah Fatah sejak awal. Hamas pun mengumumkan bahwa ia mengadopsi jalan perlawanan untuk membebaskan Palestina dari sungai hingga laut. Hamas mulai mengkritik Fatah yang memberikan pengakuan kepada negara Yahudi. Hamas mengkritik Fatah atas tuntutannya yang hanya pada batas tahun 1967. Hamas juga mengkritik Fatah yang menetek di susuan Amerika dan berunding dengan institusi Yahudi. Kemudian hasilnya, penguasa Hamas pun hanya menuntut batas tahun 1967, di sisi negara Yahudi yang didirikan di sebagian besar wilayah Palestina! Penguasa Hamas pun mengulurkan tangannya kepada Amerika untuk berunding demi tujuan itu!
Penguasa Hamas, sejak terjun di dalam Pemilu di bawah pendudukan lalu, mendapat kekuasaan di bawah pendudukan dan sejak kesepakatan Makkah. Rencana Hamas secara riil menyatakan negara Palestina pada batas tahun 1967, berdampingan dengan negara Yahudi. Akan tetapi, Hamas bermain kata terhadap keputusan-keputusan internasional dan Arab yang memutuskan pembentukan dua negara. Hamas mengatakan bahwa ia ‘menghormati’ keputusan-keputusan internasional dan tidak mengatakan bahwa ia ‘mengakui’ keputusan-keputusan internasional itu. Padahal setiap orang yang memiliki akal sehat mengetahui bahwa siapa saja yang menghormati suatu keputusan, ia akan mengakuinya cepat atau lambat!
Namun, Hamas hari ini, di dalam pidato pemimpinnya Khaled Meshal di Damaskus pada tanggal 25 Juni 2009, mengatakan dengan mulutnya sendiri bahwa Hamas menginginkan negara pada batas tahun 1967 dan bahwa Hamas mengulurkan tangannya untuk berunding dengan Amerika demi tujuan itu!
Hanya bedanya, Fatah mengumumkan persetujuannya terhadap negara di Tepi Barat dan Gaza, dan bahwa pembebasan Palestina dari sungai hingga laut tinggal warisan masa lalu. Fatah mengumumkan hal itu dua puluh tahun setelah didirikan, yaitu pada konferensi yang diselenggarakan di Aljazair pada bulan Desember 1988. Begitu juga Hamas; mengumumkan persetujuannya atas negara pada batas tahun 1967 dan mengulurkan tangannya untuk berunding dengan Amerika. Hal itu diumumkan dua puluh tahun setelah kemunculan Hamas pada tahun 1987! Seakan-akan Hamas menyusuri jejak langkah Fatah sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta.
Wahai Kaum Muslim!
Kami tidak ingin masuk dalam masalah pembentukan berbagai organisasi untuk menjelaskan bahwa negara-negara Barat, khususnya Amerika dan Inggris, tidaklah jauh dari pembentukan berbagai organisasi itu. Kami tidak ingin masuk ke masalah itu. Sebab, fakta kondisinya sudah sangat jelas dan tidak memerlukan kata-kata. Namun, kami mengatakan, dan yang benar adalah atas izin Allah kami mengatakan:
Pada tingkat tertentu kita telah dibuat menderita oleh pengakuan Fatah atas rencana dua negara di Palestina: satu negara untuk institusi Yahudi di sebagian besar wilayah Palestina dan satu negara lainnya untuk Palestina di secuil wilayah Palestina; itu pun dengan sejumlah syarat dan batasan. Namun, kita lebih menderita lagi karena Hamas terjerumus ke dalam fakta seperti ini. Hal itu karena Fatah telah menyetujui adanya dua negara di Palestina dengan dasar pandangan nasionalisme pragmatis, bukan atas nama Islam. Fatah tidak pernah satu hari pun menyerukan diri sebagai gerakan Islam. Adapun Hamas di mata masyarakat umum merupakan gerakan Islam. Bahaya yang tersimpan dalam masalah ini adalah masyarakat umum akan menduga bahwa Islam membolehkan pengakuan terhadap institusi Yahudi atas tanah yang dirampasnya di Palestina pada tahun 1948 jika institusi Yahudi itu menarik diri dari tanah yang dirampasnya pada tahun 1967. Di sinilah bencananya!
Untuk itu, kami selalu berharap agar Hamas tidak terjerumus di dalam benaman lumpur ini. Karena itu, kami pernah menasihati mereka agar tidak terjun di dalam Pemilu di bawah pendudukan. Kami pernah menasihati mereka agar tidak masuk ke dalam kekuasaan di bawah pendudukan. Akan tetapi, mereka tidak memandang sedikitpun nasihat-nasihat itu. Bahkan mereka menafsirkan nasihat-nasihat itu secara keliru dan tidak semestinya!
Wahai Kaum Muslim!
Meski kita mengalami penderitaan besar karena gerakan Islam memberikan pengakuan atas rencana dua negara di Palestina, kami melihat ada secercah cahaya dalam hal itu. Munculnya fakta ini dalam bentuk yang sebenarnya adalah lebih baik daripada terus tersembunyi tertutup kabut yang memperdaya. Sesungguhnya Anda melihat sesuatu di tengah terangnya sinar matahari adalah lebih baik daripada Anda melihatnya di tengah gelapnya malam. Dengan itu, kaki bisa diturunkan dari sesuatu itu setelah jelas penglihatan terhadapnya! Meski semua itu, Palestina masih memiliki para tokoh dan ksatria yang dengan izin Allah SWT akan mengubah penderitaan itu menjadi harapan. Pengakuan Fatah dan Hamas atas rencana dua negara di Palestina tidak akan pernah menjadikan institusi Yahudi legal (absah) dalam pandangan Islam. Fatah dan Hamas tidak mencerminkan Islam dan kaum Muslim. Keduanya hanyalah sekelompok kecil dari rombongan kafilah yang menyimpang dari jalan. Adapun Palestina, ia merupakan bumi Islam yang penuh berkah milik umat Islam. Palestina senantiasa menancap kuat di dalam pikiran dan hati umat sejak Allah SWT mengaitkan Masjidil Aqsanya dengan Baitul Haram di dalam peristiwa agung, Isra’ dan Mikraj.
} سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ اْلأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ{
Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS al-Isra’ [17]: 1).
Palestina tidak akan bisa diselesaikan dengan tangan yang terulur kepada Amerika melalui perundingan seputar solusi dua Negara; tidak pula dengan perundingan dengan institusi Yahudi hingga meski institusi Yahudi itu benar-benar menarik diri dari batas tanah yang dicaploknya pada tahun 1967. Sesungguhnya setiap jengkal tanah yang dirampas oleh Yahudi pada tahun 1948 dan setiap jengkal tanah yang dicaplok pada tahun 1967, semuanya dalam pandangan Islam adalah sama saja. Tanah yang diberkahi sekelingingnya itu telah dibangun dengan darah para syuhada tentara Islam sepanjang sejarah Khilafah Islamiyah hingga tidak tersisa satu jengkal pun dari tanah Palestina yang tidak tersiram darah syahid atau diselimuti debu-debu kuda para mujahid.
Sesungguhnya Palestina sejak peristiwa Isra’ merupakan amanah yang tergantung di leher-leher kaum Muslim. Kaum Muslim pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. telah membebaskan Palestina. Perjanjian Umariyah telah menegaskan kekuasaan Islam atas tanah Palestina sejak hari itu dan memutuskan bahwa tidak seorang Yahudi pun boleh tinggal di al-Quds yang penuh berkah itu. Amanah itu terus berlangsung sepanjang sejarah. Setiap kali musuh berani menyerang Palestina dan berhasil menguasai serta mengotorinya, maka panglima yang gagah perkasa di bawah Khilafah membebaskannya kembali dari kekotoran musuh-musuh itu. Shalahuddin al-Ayubi telah mensucikannya dari kaum salib. Al-Qutuz dan Baybars telah mensucikannya dari orang-orang Tatar. Kemudian Khalifah Abdul Hamid pada akhir masa Khilafah tetap menjaganya ketika beliau melarang kelompok Hertzel bermukim di sana. Sungguh hal itulah yang wajib terjadi seandainya Khilafah telah berdiri sehingga lenyaplah institusi Yahudi perampas Palestina dan Palestina secara menyeluruh akan kembali ke pangkuan Dar al-Islam.
Sesungguhnya Palestina tetap menjadi amanah yang bergantung di leher-leher kaum Muslim. Tiada seorang Muslim pun yang memiliki kebebasan untuk mengkhianati amanah tersebut. Allah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa berfirman:
} يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لاَ تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ{.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), juga jangan mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepada kalian, sedangkan kalian mengetahui. (QS al-Anfâl [8]: 27)
4 Rajab 1430 H
26 Juni 2009
Hizbut Tahrir
Box:
HIZBUT TAHRIR TELAH LAMA MENGINGATKAN FATAH MAUPUN HAMAS
*
Berkali-kali Hizbut Tahrir mengingatkan bahwa solusi Palestina bukanlah dengan cara berdamai dengan Yahudi, dengan pengarahan Amerika Serikat atau Eropa. Solusi Palestina tidak lain hanyalah jihad fi sabilillah.
*
9 Muharram 1428 H/28 Januari /2007 M: Mengeluarkan nasyrah resmi yang intinya: mengingatkan Fatah maupun Hamas yang saat itu terlibat dalam konflik berdarah, bahwa tindakan masing-masing merupakan tindakan kriminal di mata Allah SWT.
*
3 Jumadil Akhir 1428 H/18 Juni 2007 M: Mengeluarkan nasyrah resmi yang intinya: mengingatkan Fatah maupun Hamas agar keduanya bersatu dan tidak malah berpecah-belah dengan membelah Palestina: Tepi Barat Gaza di bawah otoritas Fatah dan Gaza di bawah otoritas Hamas. Hizbut Tahrir juga mengingatkan bahwa Kesepakatan Makkah (Februari 2007) yang disetujui baik oleh Fatah maupun Hamas saat itu tidak lebih merupakan penyempurnaan dari pengumuman Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Aljazair (Oktober 1988), yang menyetujui bahwa masalah Palestina direduksi hanya pada wilayah yang diduduki pada tahun 1967.
*
4 Rajab 1430 H/26 Juni 2009 M: Mengeluarkan nasyrah resmi—yang sebetulnya merupakan nasihat untuk kesekian kalinya kepada Hamas—dengan judul “Otoritas Hamas Mengikuti Jalan yang Ditempuh Otoritas Fatah Sejengkal Demi Sejengkal dan Sehasta Demi Sehasta”. Nasyrah tersebut intinya mengingatkan Fatah maupun Hamas tentang bahaya solusi dua Negara (Palestina dan Yahudi).
* Namun, apa balasan yang diterima Hizbut Tahrir? Fatah beberapa kali memenjarakan para aktivis Hizbut Tahrir. Hal yang sama akhir-akhir ini juga ditempuh Hamas dengan menangkapi sekaligus menyiksa sejumlah aktivis Hizbut Tahrir di Gaza. (Al-Aqsha.org, 28/6/29).
Komentar al-Islam:
Kapal Perang AS Terobos Perairan Natuna (Jawapos.com, 25/6/2009)
Sekali lagi kedaulatan negeri ini terancam; sekali lagi penguasa negeri ini tak berdaya.
Read all and give comment please...
Penguasa Hamas Menapaki Jejak Penguasa Fatah, Sejengkal Demi Sejengkal, Sehasta Demi Sehasta
02 Juli 2009
Krisis Ekonomi Dunia Belum Berakhir
25 Juni 2009
[Al-Islam 461] Akhir-akhir ini media Barat memberitakan prakiraan sejumlah perusahaan yang mengatakan, bahwa tahap paling kritis dari krisis keuangan telah berlalu; juga bahwa perekonomian beberapa negara Barat telah mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan ekonomi. Berbagai laporan media itu menyebutkan pendapat beberapa ahli ekonomi, para politisi dan pelaku bursa. Mereka menyatakan, naiknya kembali harga minyak menandakan bahwa perekonomian global telah sampai pada titik terendahnya dan mulai pulih, yang mendorong harga minyak terus merangkak naik.
Benarkah perekonomian sudah mulai pulih? Tentu salah jika pulihnya perekonomian hanya dilihat dengan memperhatikan sinyal-sinyal keuangan, seperti naiknya harga minyak dan harga komoditi di pasar global. Tentu kita harus memperhatikan tingkat produksi perusahaan-perusahaan, total GDP, angka pengangguran, harga barang-barang konsumsi, besaran belanja rumah tangga dan perusahaan, jumlah kredit perumahan dan pengumuman kebangkrutan yang terus terjadi pada perusahaan raksasa seperti General Motors dll; juga gejala-gejala perekonomian lainnya.
Dengan memperhatikan semua itu akan tampak jelas bahwa di seluruh dunia belum ada tanda-tanda pemulihan ekonomi! Kami akan menyebutkan beberapa buktinya:
1. Kondisi perekonomian Amerika.
Angka pengangguran di AS mencapai 8,9%, tertinggi sejak 26 tahun lalu. Tingkat pendapatan nasional menurun 6,1% pada kuartal pertama tahun ini. Supaya tingkat penjualan sebanding dengan jumlah barang, perusahaan mengurangi penawaran barang ke pasar sampai pada angka terendah sejak Perang Dunia II. Penurunan penawaran itu setara dengan 103,7 miliar dolar AS pada kuartal pertama tahun 2009. Sebelumnya, pada kuartal terakhir tahun 2008, penawaran itu telah menurun senilai 25,8 miliar dolar AS. Investasi di AS juga menurun 38% dalam satu tahun. Ekspor barang dan jasa pada kuartal pertama tahun 2009 menurun 30%. Sebelumnya, pada kuartal terakhir 2008 ekspor AS telah menurun 23,6%. Angka kegagalan kredit akibat ketidakmampuan melunasi kredit pada bulan Maret 2009 meningkat hingga 341.180. Angka itu naik 17% dari bulan Februari 2009, dan naik 46% dari bulan Maret 2008.
Selain itu, Pemerintah AS telah menyuntikkan uang miliaran dolar pada bank-bank yang ambruk dan perusahaan-perusahaan yang terlilit utang.
2. Kondisi perekonomian Jerman.
Angka pengangguran di Jerman mencapai 8,2%, tertinggi sejak Perang Dunia II. Kantor Perburuhan Federal pada tanggal 28 Mei 2009 menyatakan, bahwa rata-rata pemutusan hubungan kerja (PHK) bertambah. Hal itu di luar pengurangan jam kerja harian untuk mengurangi tingkat pengangguran. Pengamat ketenagakerjaan Anders Reese telah mencatat bahwa statistik pengangguran telah dimanipulasi supaya tampak sebaliknya dan supaya kelihatan membaik pada bulan Juni.
Sektor manufaktur Jerman juga mengalami penurunan sekitar 58% pada bulan April dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu. Angka itu merupakan penurunan terbesar sektor ini sejak didirikan. Organisasi industri-industri berat mengatakan bahwa telah terjadi penurunan permintaan global sebesar 60% dan permintaan lokal sebesar 52%. Sebagian pengamat ekonomi malah lebih pesimis daripada pemerintah.
3. Kondisi perekonomian Eropa secara umum.
Penjualan eceran menurun drastis pada bulan April 2009 karena tingginya angka pengangguran. Artinya, konsumen secara bersama-sama mengurangi belanja mereka. Nik Kounis, kepala ekonom Eropa di Fortis Bank Netherland mengatakan di Amsterdam, “Menurut Komisariat Eropa, angka pengangguran di Eropa pada bulan Maret 2009 naik sampai 8,9%, tertinggi sejak tiga tahun. Angka pengangguran tahun depan akan terus naik sampai 9,9% dan mencapai 11,5% pada tahun 2010. Menurut Komisariat Eropa, perekonomian kawasan Eropa akan mengalami penurunan sebesar 4% pada tahun ini. Hal itu disebabkan oleh turunnya ekspor dan pemutusan hubungan kerja oleh sejumlah perusahaan.”
4. Kondisi perekonomian Jepang.
Angka pengangguran di Jepang pada bulan April 2009 mencapai 5%, tertinggi sejak lima tahun terakhir. Dalam laporan bulanan Departemen Dalam Negeri dan Komunikasi dinyatakan bahwa terdapat 3,46 juta pengangguran. Jumlah itu naik 25,8% dibandingkan dengan April tahun lalu. Dinyatakan juga bahwa hanya ada 46 pekerjaan bagi setiap 100 orang pencari kerja. Ini adalah angka terburuk sejak tahun 1999.
Rata-rata belanja rumah tangga pada bulan April menurun 1,3% dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu. Produk domestik bruto Jepang mengalami penurunan 10%. Penurunan total PDB Jepang sejak bulan Januari sampai bulan Maret menciptakan perlambatan ekonomi terburuk sejak tahun 1947. Glenn Maguire, kepala ekonom di Societe Generale Asia Pasifik mengatakan, bahwa secara umum perlambatan 10% pertumbuhan dinilai sebagai resesi. Jepang hampir sampai pada batas itu dengan menurunnya perekonomian Jepang sebesar 9,7% pada tahun ini.
5. Kondisi perekonomian global.
Menurut New York Times, perekonomian negara-negara berkembang telah melalui kuartal paling buruk sejak satu dekade lalu. Kondisi yang lebih buruk akan datang. Total produk domestik bruto tiga puluh negara yang tergabung di dalam OECD mengalami penurunan 2,1% pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Produk domestik bruto negara-negara anggota OECD mengalami penurunan 2% pada kuartal terakhir tahun 2008.
Menurut Bank Dunia, perekonomian negara-negara anggota OECD mencakup 71% dari total produksi nasional secara global. Perekonomian negara-negara OECD pada kuartal pertama tahun 2008 menurun 4,2%. Dari angka itu, Amerika turut andil 0,9%, Jepang 1%, 13 negara terbesar kawasan Euro sebesar 1,3% dan negara-negara lainnya 1%.
Semua itu menunjukkan fakta sebenarnya bahwa kondisi perekonomian global belum pulih dari krisis, bahkan masih akan terus didera krisis.
Lalu mengapa terjadi kenaikan di pasar saham dan pasar barang dan jasa? Jawabannya, kenaikan itu disebabkan hal-hal berikut: Pertama, suntikan dana yang dilakukan pemerintah AS kepada perusahaan asuransi AIG sebesar US$ 173 miliar yang diambil dari uang para pembayar pajak AS. Dari jumlah itu, 90 miliar dibelanjakan untuk membayar utangnya ke perbankan Amerika dan Eropa. Pada tanggal 15 Maret 2009, AIG telah mendistribusikan uang ke sejumlah bank dan institusi: Bank Goldman mendapatkan US$ 12,9 miliar; Bank Merrill Lynch US$ 6,8 miliar; Bank of America US$ 5,2 miliar; Citigroup US$ 2,3 miliar; Bank Wachovia US$ 1,5 miliar; Bank Barclays US$ 8,5 miliar; dan UBS Swiss mendapat US$ 5 miliar.
Supaya pemerintah AS tidak terkesan membantu perusahaan AIG secara langsung karena khawatir akan menimbulkan kemarahan masyarakat, AIG mentransfer dana itu ke berbagai bank. Berikutnya bank-bank itu mengumumkan keuntungannya. Misalnya, Bank of America mengumumkan keuntungannya sebesar US$ 4,2 miliar, Citigroup US$ 1,6 miliar dan Goldman Sachs US$ 1,8 miliar. Di Eropa Barclays Bank mengumumkan keuntungannya sebesar 5,28 miliar pounsterling. Akhirnya, harga-harga saham pun terkerek naik. Sebenarnya kenaikan harga-harga saham itu bukan karena aktivitas ekonomi yang menghasilkan keuntungan, tetapi karena suntikan dana yang pengaruhnya hanya sebentar.
Kedua, pada awal tahun ini, pemerintah AS mengumumkan programnya untuk menopang bank-bank Amerika. Tujuan pengumuman itu adalah untuk menyebarkan kepercayaan para investor bank-bank Amerika untuk memberikan sugesti bahwa bank-bank itu dalam kondisi baik dan tidak sedang mengalami kesulitan besar. Program itu, sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan oleh Menteri Keuangan AS Timothy Geitner, adalah untuk memberikan kesan bahwa mayoritas aset bank yang mengamali kesulitan bisa dikeluarkan dari daftar neraca.
Kondisi-kondisi dan berbagai pernyataan itu menyebabkan naiknya harga-harga saham perbankan Amerika. Harga saham Bank Wells Fargo naik 8,5%, Morgan Stanley naik 0,9%, Bank of America naik 4% dan Citigroup naik 7%. Jelas, apa yang terjadi ini mirip dengan dukungan propaganda opini untuk menaikkan saham tertentu seperti yang dilakukan oleh para spekulan yang sengaja menyebarkan berita tentang kemajuan kondisi ekonomi suatu perusahaan, atau peluang kemajuan perusahaan itu. Lalu berita itu menyebabkan bertambahnya kepercayaan dan menaikkan harga saham perusahaan tersebut. Kemudian setelah tujuan para spekulan itu tercapai, harga saham itu pun turun kembali dan bahkan ambruk. Hal itu seperti yang terjadi pada sebab-sebab munculnya krisis saat ini.
Ketiga, pada awal tahun ini The Fed (Bank Sentral AS) dan Bank of England (Bank Sentral Inggris) masing-masing mengumumkan rencana untuk mulai membeli aset-aset beracun milik berbagai bank, surat-surat utang dan aset-aset lembaga keuangan yang ambruk. Pertambahan jumlah uang yang dipompakan ke pasar secara alami pasti menyebabkan inflasi dan naiknya harga-harga barang dan jasa. Sebab, bertambahnya uang yang ditawarkan akan melemahkan daya belinya dan berikutnya terjadi inflasi, yaitu kenaikan harga-harga barang dan jasa. Bank of England mulai menampakkan keterkejutannya atas naiknya angka inflasi yang menyebabkan penderitaan ekonomi; perekonomian Inggris sendiri berada pada titik terendah sejak tahun 1930. Angka inflasi mencapai 2,9% jauh lebih tinggi daripada angka yang diperkirakan sebelumnya, yaitu 2%. Inilah yang bias menjelaskan mengapa harga minyak naik dari US$ 36 perbarel menjadi US$ 58 perbarel. Artinya, kenaikan harga minyak tidak menunjukkan bahwa permintaannya bertambah. Konsumsi energi pada tahun 2009 justru menurun untuk pertama kalinya sejak PD II. Hal itu menunjukkan dengan jelas bahwa perekonomian global masih jauh dari pulih.
Dengan demikian, pembicaraan tentang pulihnya perekonomian Barat adalah terlalu dini. Pemerintah Barat mengadopsi kebijakan menurunkan tingkat suku bunga dan membeli aset-aset beracun hanya untuk menunda ambruknya perekonomian. Bisa jadi pemerintah Barat justru akan menenggelamkan pasar uang ke kubangan inflasi. Ambruknya pasar barang dan munculnya gelembung mata uang yang bisa meletus menyebabkan penderitaan terbesar yang disaksikan oleh dunia saat ini.
Khatimah
Seluruh paparan di atas semakin membuktikan bahwa bangunan ekonomi Kapitalisme selama ini memang rapuh. Hal ini semakin meneguhkan bahwa bangunan apapun—termasuk ‘bangunan’ sistem ekonomi—yang tidak didasarkan pada takwa (baca: syariah Islam), pastilah rapuh dan pasti suatu saat akan runtuh. Mahabenar Allah SWT Yang berfirman:
أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (١٠٩)
Apakah orang-orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengannya ke dalam Neraka Jahanam? Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim (QS at-Taubah [9]: 109). []
Komentar al-islam:
Michael Buriyev: Khilafah Islam, Satu Dari 5 Negara Besar Masa Depan (Hizb-ut-tahrir.info, 18/06/09).
Bahkan insya Allah Khilafah akan menjadi satu-satunya yang terbesar di dunia!
Read all and give comment please...
Syariah dan Khilafah: Jalan Baru Untuk Indonesia Lebih Baik
19 Juni 2009
Komentar al-Islam:
Menkeu Sri Mulyani yakin, ekonomi Indonesia tumbuh 7 persen pada 2011 (Koran Tempo, 16/6/2009).
Begitulah negara kapitalis, hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi dan selalu abai terhadap pemerataan ekonomi.
[Al-Islam 460] Hiruk-pikuk kampanye Pilpres 2009 mulai digelar. Rakyat disuguhi berbagai iklan dan orasi politik capres/cawapres. Para capres/cawapres berbusa-busa menawarkan janji, saling serang kelemahan lawan; juga membuat pernyataan, opini dan klaim keberhasilan.
Pada saat yang sama, kebanyakan raktyat negeri ini masih dililit dengan berbagai persoalan. Contoh kecil adalah penderitaan dan nestapa yang menimpa Siti Hajar (33). TKI di Malasyia yang asal Limbangan Garut Jawa Barat itu terluka parah akibat siraman air panas dan dipukuli majikannya. Baru saja kasus ini masuk proses penyidikan, polisi menemukan kasus yang tidak kalah memilukan: Nurul Widayanti TKI asal Desa Dindeen, Wadungan, Ngawi, Jatim tewas tergantung di rumah orangtua majikannya, juga di Malasyia. Sangat mungkin, derita yang sama—yang tidak diekspos—juga banyak dialami oleh TKI lainnya yang tersebar di kawasan Asia Pasifik (351.966) dan Timur Tengah (343.487) berdasarkan data tahun 2007 (Kompas, 15/6/09).
Masalah juga banyak muncul di ranah hukum dan peradilan. Seorang Ibu, Prita Mulyasari, ditahan Kejaksaan hanya karena mengeluhkan pelayanan baik RS Omni Internasional Alam Sutra, Serpong melalui surat elektronik (email). Ia dianggap mencemarkan nama baik rumah sakit tersebut. Penahanan prematur yang tidak memenuhi prosedur hukum ini juga mengingatkan kasus yang sering terjadi menimpa rakyat yang belum melek hukum. Tahun lalu terungkap kasus pembunuhan mutilasi berantai Ryan yang juga pelaku pembunuhan Moh Asrori, 24, warga Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang. Dalam kasus ini, polisi telah melakukan salah tangkap terhadap Imam Khambali alias Kemat, Devid Eko Priyanto dan Sugik. Mereka telah terlanjur divonis masing-masing 17 dan 12 tahun atas kasus ’pembunuhan Asrori’ di kebun tebu.
Duka juga menyapa TNI. Banyak anggota TNI gugur bukan di medan perang, melainkan menjadi korban Alutsista yang sudah “usang kadaluwarso”. Dalam sepekan dua pesawat Heli jatuh. Yang terbaru adalah Helikopter Puma SA-330 dengan nomer registrasi HT 3306 yang jatuh pada hari Jumat (12/6) sekitar pukul 14.13 WIB di daerah Atang Sanjaya Bogor. Kecelakaan ini mengakibatkan gugurnya empat orang TNI dan tiga lainya luka serius. Tentu ironis. TNI, institusi yang menjadi pilar tegaknya negeri yang sangat luas teritorialnya ini, hanya memiliki peralatan tempur dan anggaran alakadarnya.
Masalah lainnya, isu Ambalat kembali mencuat. Kedaulatan Indonesia pun rentan terkoyak. Seperti yang sudah terjadi, Indonesia ‘kalah’ oleh Malaysia dalam kasus sengketa “Sipadan-Lingitan”, yang kini sudah berada dalam pangkuan Malasyia. Sebelumnya, Timor-Timor lepas dari kesatuan negeri ini. Peluang itu bisa berulang di bagian timur Indonesia (Maluku, Papua) maupun barat Indonesia (Aceh) jika Pemerintah tetap tidak serius menjaga kedaulatan negeri ini.
Di sektor keuangan, Indonesia juga menjadi negara yang tidak pernah merdeka dari jeratan hutang dan bunganya. Pada Desember 2003 posisi hutang Indonesia adalah Rp 1.275 triliun. Pada Januari 2009, hutang Indonesia membengkak menjadi Rp 1.667 triliun. Jumlah tersebut, jika dibagi dengan jumlah penduduk Indonesia, menjadi Rp 7,7 juta perkepala. Selama kepemimpinan SBY-JK, hutang meningkat hampir 13% (Rp 400 triliun) hanya dalam kurun waktu empat tahun, yakni naik sekitar Rp 80 triliun pertahun. Inilah “prestasi hutang” terbesar dari pemerintahan SBY-JK dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya. Jelas, angka ini tidak sebanding dengan anggaran untuk sektor yang menyangkut hajat asasi hidup rakyat seperti pertanian (Rp 8 triliun), pendidikan (Rp 62 triliun), kesehatan (Rp 20 triliun), kementerian lingkungan hidup (Rp 376 miliar). Sementara itu, dalam APBN 2009, untuk membayar hutang tersebut dianggarkan dana sebesar Rp 162 triliun.
Yang lebih parah, dalam dokumen yang ditemukan INFID, program BLT yang diklaim sebagai program hasil rancangan Pemerintah Indonesia ternyata ada dalam dokumen Bank Dunia. Dalam “Document Policy Loan (DPL)” Bank Dunia, program BLT tersebut didukung oleh ADB (Asian Development Bank) dan Jepang, dan ini adalah program Bank Dunia (Media Indonesia, 15/6).
Ini tentu ironis. Pasalnya, Pemerintah ternyata memberikan “uang cuma-cuma” kepada sebagian rakyat dari hasil hutang luar negeri yang juga harus ditanggung rakyat. Dengan kata lain, sebagian rakyat yang mendapatkan BLT sebesar Rp 300 ribu setiap tiga bulan, ternyata sekaligus diberi beban hutang oleh Pemerintah sebesar Rp 7,7 juta perkepala.
Kepedulian Musiman
Bagaimana sikap penguasa terhadap borok-borok yang bermunculan silih berganti ini? Ternyata kepedulian penguasa dan elit politik hanya bersifat musiman. Rakyat hanya diperhatikan setiap menjelang Pemilu dan Pilpres. Ironisnya, derita rakyat sekadar dieksploitasi ramai-ramai sekadar untuk mendongkrak popularitas dan perolehan suara di Pilpres 2009.
Pertanyaannya, akankah pergantian kepemimpinan Indonesia 2009 membawa perubahan bagi rakyat? Mampukah penguasa baru membawa Indonesia menjadi negara yang merdeka dari penjajahan ekonomi, politik, hukum dan budaya? Bisakah sekadar pergantian sosok pemimpin menjadi satu-satunya solusi bagi Indonesia untuk mengatasi krisis multidemensi yang kronis ini?
Sekularisme: Akar Masalah
Lebih dari setengah abad Indonesia merdeka dari penjajahan fisik. Namun, hingga kini mayoritas rakyatnya tidak hidup dalam kebaikan; kebanyakan mereka miskin, bodoh, dan teraniaya. Padahal negeri dengan populasi jumlah penduduk terbesar nomer empat di dunia (setelah Cina, India dan AS) ini memiliki potensi sumberdaya pertanian dan kekayaan mineral yang sangat melimpah.
Mengapa semua ini terjadi? Jika ditelaah secara jernih, semua persoalan yang tengah dihadapi Indonesia dan belahan Dunia Islam lainnya berpangkal pada penerapan sistem sekular-kapitalis dan tidak adanya kedaulatan syariah. Dengan kata lain, sistem Islam tidak diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Inilah akar berbagai persoalan ikutan seperti kemiskinan, kebodohan, korupsi, kerusakan moral, kezaliman, disintegrasi serta penjajahan dalam segala bentuknya.
Sejak kemerdekaan hingga saat ini, sekularisme (keyakinan yang menolak campur tangan agama dalam kehidupan) mengatur Indonesia, terlepas dari siapapun yang berkuasa. Syariah Islam yang berasal dari Zat Yang Maha Pengatur tidak pernah diterapkan sejak negeri ini merdeka. Akibatnya, rakyat Indonesia terus-menerus hidup dalam krisis yang tidak berkesudahan. Indonesia, dengan sistem sekularnya, terbukti gagal mengantarkan rakyat (warga negara) pada kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan. Inilah fakta dan keniscayaan dari sebuah sistem yang rusak, yang bersumber dari akal dan hawa nafsu manusia.
Di Indonesia, sistem sekular yang mencampakkan syariah Allah ini tidak pernah sungguh-sungguh mendapatkan dukungan dari umat. Sebabnya, ia kontradiksi dengan akidah umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini.
Rahasia Kejayaan
Agar Indonesia maju, bagi umat Islam tidak ada pilihan kecuali kembali pada rahasianya, yaitu penerapan sistem (syariah) Islam secara kâffah. Islam harus menjadi ideologi yang melandasi semua bentuk interaksi kehidupan sosial, baik dalam negeri maupun luar negeri. Syariah Islam telah menyiapkan negara dengan ditopang oleh sejumlah struktur yang diperlukan, di antaranya adanya khalifah (kepala negara), para mu’âwin (pembantu khalifah), para wali (kepala daerah), hingga para qâdhi (hakim), petugas administrasi dan majelis umat.
Dalam sistem ekonomi Islam, terdapat berbagai ketentuan syariah yang berkaitan dengan tanah, kepemilikan, industri, perdagangan dalam dan luar negeri dan sistem lainya. Semua itu menjadi perangkat penting untuk menjamin terciptanya kemakmuran dan kesejahteraan.
Lalu terkait dengan politik luar negeri, ada ketentuan syariah mengenai kewajiban untuk membangun tentara yang kuat, bukan berdasarkan konsep tipuan Barat, yakni “minimum deterrence” (pertahanan minimal). Konsep ini hanyalah dimaksudkan untuk mematikan kekuatan militer Dunia Ketiga, khususnya Dunia Islam, dan demi melanggengkan kekuasan Barat atas negeri-negeri jajahannya.
Islam, dengan seperangkat konsepnya yang lengkap dan mudah diterapkan, akan menjadikan Indonesia berdaulat atas seluruh kekayaan dan potensi melimpah yang dimilikinya. Dengan menerapkan syariah Islam, Indonesia tidak akan menjadi negara yang mengabdi pada kepentingan asing, mengatur rakyatnya dengan undang-undang ataupun konsensus pihak asing (misal: Konsensus Washington) yang liberal dan menjadikan rakyat “kere” di negerinya sendiri yang subur, persis seperti pepatah: seperti unta yang mati karena kehausan, padahal ia memikul air di punggungnya.
Yang pasti, Allah SWT sudah jauh-jauh hari mengingatkan umat ini atas sikap abainya terhadap penerapan syariah Islam:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤
Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran), sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan pada Hari Kiamat nanti Kami akan membangkitkannya dalam keadaan buta (QS Thaha [20]: 124).
Syariah dan Khilafah: Jalan Baru Indonesia
Setelah Sosialisme ambruk, Kapitalisme-liberalisme yang sekarang diterapkan pun gagal total dalam memajukan negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia, maka tentu tidak ada jalan lain bagi kaum Muslim kecuali kembali pada syariah Islam. Indonesia akan bangkit dan maju hanya dengan menerapkan syariah Islam ini secara kâffah. Inilah yang berkali-kali diingatkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia, termasuk saat peluncuran “Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia yang Lebih” di Jakarta beberapa waktu lalu, dan serentak dilaksanakan di seluruh daerah di Indonesia dalam pekan-pekan terakhir ini.
Singkatnya, dengan Manifesto-nya, Hizbut Tahrir kembali mengingatkan bahwa umat Islam dan manusia secara keseluruhan hanya akan kembali dapat menikmati kehidupan yang adil, damai, dan sejahtera dalam naungan ridha Allah SWT dengan cara menerapkan syariah Islam secara kâffah dalam sebuah negara yang diwariskan oleh Rasulullah saw., yakni Khilâfah ‘ala Minhâj an-Nubuwwah. Yang terpenting, hanya dalam Khilafah yang menerapkan syariah secara kâffah umat Islam dapat merealisasikan ketundukan, ketaatan dan kepasrahannya secara total kepada Allah SWT. Bersamaan dengan itu, Indonesia terus berusaha menyiapkan kemampuan diri untuk memimpin bangsa-bangsa lain di seluruh dunia, menjadi negara yang berpengaruh dan disegani serta bisa membawa dunia ini dalam naungan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, insya Allah. []
Read all and give comment please...
Kurang Imam, Banyak Masjid Brasil Tutup
13 Juni 2009
SAO PAULO - Meski Muslim di Brasil menikmati atmosfer toleransi unik, banyak masjid ditutup gara-gara jumlah imam yang jarang. Kondisi itu mengancam identitas Islam di kalangan Muslim, terutama generasi muda.
“Sepertiga masjid ditutup gara-gara tak ada imam,” ujar Al-Sadiq Al Othmani, kepala Departemen Urusan Islam, di kantor Dakwah Islami, Amerika Latin berbasis Sao Paulo. Padahal ada banyak masjid di ibu kota utama negara-negara bagian Brasil dan juga kota-kota lain.
Dalam kota Sao Paulo sendiri ada sekitar sepuluh masjid, termasuk Masjid Brasil, masjid pertama di Amerika latin yang konstruksi pendirian dimulai pada 1929.
Budaya Toleransi Muslim Brazil sebenarnya juga memikat turis Muslim luar negeri. Hanya saja dari 120 masjid, hanya tersedia imam dan khotib tak lebih dari 40 orang. demikian menurut Khaled Taqei Ed-Din, seorang imam di Sao Paulo.
“Itu pun hanya sedikit yang menyelesaikan pendidikan syariah di tingkat universitas,” ujarnya. “Sementara sisanya menjadi imam berdasarkan pengalaman,” imbuh Khaled.
Alhasil meski sebagian besar masjid memiliki desain-desain unik, duapertiga bangunan ibadah umat Islam di Brasil ditutup, sepi tanpa tanda kehidupan. “Banyak masjid bahkan yang tak mampu menggelar sholat lima kali dalam sehari,” keluh Al Sadiq.
Pemimpin Muslim mengaitkan krisis keberadaan imam dengan kekurangan dana di Islamic center. Itu membuat masjid-masjid Brasil tak mampu melakukan pelatihan terhadap calon-calon imam baru.
Mereka juga mengingatkan kondisi gawat akibat masjid yang makin banyak membisu. “Banyak generasi muda tidak tahu banyak tentang Islam,” ujar Ahmed Othman Mazloum, seorang khotib asal Lebanon.
“Beberapa menjadi Muslim karena nama dan yang lain sudah mengabaikan segala sesuatu yang berkaitan dengan agama,” tuturnya.
Pemimpin Muslim sependapat jika kesalahan terbesar ada pada komunitas mereka, yang tidak melakukan upaya lebih untuk mendukung institusi masjid.
Al Sadiq menghimbau para organisasi Muslim harus bergerak dan menyediakan waktu khusus untuk merekrut imam penuh waktu alih alih menggunakan imam sukarela. Dukungan finansial pun, menurut Al Sadiq harus datang dari dalam komunitas sendiri.
Profesor Mohsen Bin Musa El-Husseini, kepala Pusat Islami di Foz du Iguacu, kota terdapat mayoritas Muslim kedua di Brasil setelah Sao Paulo, memiliki solus lain. “Komunitas Muslim, sangat membutuhkan aksi mendesak, yang keuntungan akan didedikasikan pada institusi Muslim. “Ini satu-satunya jalan untuk mencegah identitas Muslim di generasi masa depan,” tegasnya.
Muslim di Brasil saat ini berkisar 27.329, menurut data sensus negara. Mayoritas adalah keturunan Syiria, Palestina, Lebanon, yang menetap di Brasil pada abad ke-19, saat Perang Dunia I dan pada 1970-an
Sebagian besar Muslim tinggal di negara bagian Parana, Goias, Rio de Janiero, dan Sao Paulo. Namun juga ada komunitas berjumlah cukup signifikan di Mato Grosso do Sul dan Rio Grande do Sul. (Republika online, 12/06/2009)
Read all and give comment please...
Darah Kaum Muslim: Perang Melawan Penjajah Asing Atau Melayani Kepentingan Asing?
11 Juni 2009
Dunia Islam dan dunia Arab histeris karena peperangan yang sangat sengit, yang dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Peperangan itu telah menyebabkan puluhan ribu nyawa melayang, dan jutaan lainnya mengungsi. Sehingga, orang yang dengan cermat mengikuti pemberitaan di media massa, tidak tahu dari mana ia harus mulai (dalam mencermatinya?), dan di mana semua itu akan berakhir, sehingga orang yang sabar dibuatnya menjadi kebingungan. Mengapa, karena dia melihat tentara Pakistan membumihanguskan warganya sendiri di lembah Swat, yang mengakibatkan ribuan warga sipil tewas, dan tiga juta orang mengungsi meninggalkan daerah yang subur dan indah. Alasan pemerintah Pakistan melakukan semua itu adalah untuk menundukkan dan mengeliminir gerakan Taliban Pakistan, serta pengusiran para milisi asing.
Sedang di negeri tetangganya, Afghanistan para tentara NATO berperang—yang di belakangnya adalah pemerintahan Karzai, di samping Amerika—melawan penduduk Afghanista yang tergabung dalam gerakan Taliban Afghanistan. Sedang alasan mereka melakukan semua itu adalah karena gerakan tersebut tidak ikut berpartisipasi dalam pemerintahan, dan juga alasan untuk mengusir para milisi asing.
Selanjutnya, lihat Somalia yang sedang ditimpa musibah. Syeikh Syarif Ahmad yang kemarin adalah mitra partai Islam dan pemuda mujahidin dalam memerangi pemerintah yang loyal kepada Amerika dan pasukan Ethiopia, sekarang berbalik memerangi keduanya, dengan klaim bahwa pasukannya adalah orang-orang asing, sehingga itu dilakukan dengan alasan mengusir para milisi asing.
Adapun tentara Arab, seperti tentara Mesir, Suriah, dan Saudi Arabia sungguh mereka telah berperang di pihak Amerika dalam Perang Teluk, dengan alasan membebaskan Kuwait dari orang-orang Irak (orang-orang asing). Perlu diketahui bahwa pemerintah Irak sendiri dengan berbagai komponen politiknya telah memerangi kelompok perlawanan di Irak dengan alasan memerangi para milisi asing.
Di Palestina juga demikian, di mana aparat keamanan Palestina yang kemarin menjadi mitra bagi kelompok perlawanan dan pemerintah, sekarang justru sebaliknya. Itu semua dilakukan dengan dalih bahwa pasukan mereka adalah orang-orang asing (orang-orang Iran).
Demikian halnya dengan Iran yang telah membantu Amerika di Irak dan Afghanistan, dengan alasan keberadaan teroris asing. Beberapa hari yang lalu, para penguasa Iran, Afghanistan, dan Pakistan bertemu, dan hasilnya mereka sepakat untuk memerangi terorisme, dan menjaga keamanan perbatasan, agar para teroris tidak mudah keluar-masuk.
Siapapun yang mencermati peperangan dan politik ini akan menemukan bahwa Amerika telah menggunakan negeri-negeri itu dan para tentaranya untuk memasuki sebuah medan peperangan dengan menjadi agen Amerika di semua wilayah tersebut. Tentara Pakistan sedang memasuki peperangan menggantikan Amerika di wilayah kesukuan (FATA) yang telah dikuasai kelompok perlawanan Afghanistan, sehingga hal itu menimbulkan kekhawatiran terhadap keberadaan Amerika di Afghanistan, serta mengancam terhadap pasokan logistik dan yang lainnya.
Adapaun pemerintahan Karzai dan gerakan-gerakan yang bersekutu dengannya, maka semuanya memasuki peperangan dan berdampingan dengan pasukan Amerika di Afghanistan untuk mempertahankan keberadaan Amerika di wilayah tersebut, serta untuk menjaga semua aset dan kepentingan Amerika.
Sementara di Irak, maka bukan rahasia lagi bahwa para penguasa Arab bersekutu dengan Amerika. Mereka telah menyerahkan tanah, langit, dan semua potensi yang mereka miliki kepada Amerika. Mereka memasuki peperangan untuk melawan tentara Irak, membuka jalan untuk menduduki Irak, merampas kekayaannya, membunuh dan mengusir jutaan rakyat Irak. Begitu juga halnya dengan pemerintah Irak yang dibentuk oleh Amerika yang berdasarkan aliran, termasuk pembentukan Ashahwat telah memerangi semua gerakan perlawanan di Irak menggantikan Amerika.
Sedangkan pemerintah Syeikh Syarif Ahmad, maka gerakan-gerakan yang memerangi dan yang diperanginya, sebelumnya merupakan sekutunya sendiri dalam memerangi kekuasaan dan pengaruh Amerika di Somalia, serta sekutunya dalam memerangi para agen Amerika, baik pemerintah atau tentara Etiopia. Namun semua itu terjadi sebelum ia bergandengan dengan Amerika di Djibouti, dan hasil dari berbagai pertemuan yang ia lakukan dengan mereka, sekarang ia memasuki peperangan sebagai agen untuk melawan sekutunya sendiri, yang kemarin bersama-sama berjuang mengalahkan pengaruh Amerika yang sedang mendominasi di Somalia.
Adapun di Palestina, maka Jenderal Amerika, Dayton mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyingkirkan semua kekuatan pemberontak dari aparat keamanan, dan kemudian melatih generasi baru yang rela untuk mengawasi dan menangkapi “saudara-saudara menreka sendiri, meski harus menggunakan kekuatan senjata”, atau bahkan menjadi mitra pemerintah dalam rangka untuk menjaga keamanan orang-orang Yahudi, serta melestarian kepentingan, pengaruh, dan dominasi Amerika di Palestina.
Jika kita pelajari dengan seksama, bahwa para tentara “orang-orang asing” di Afghanistan, maka mereka semua disebut dengan Mujahidin pada waktu berperang dengan bangsa Rusia, baik di mata para penguasa Arab, kaum Muslim, maupun Amerika, sedang sebagian yang lain disebut dengan tentara perlawanan, pejuang, pendukung, sekutu pemerintah, dan lain-lainnya.
Sementara sekarang begitu jelasnya bahwa kaum Muslim (berperang?) satu sama lain dalam peperangan sebagai agen Amerika dan yang lainnya di semua daerah. Mengapa, umat tidak juga menyadari akan kewajibannya, potensi kekuatannya, dan kemampuannya untuk mengubah kondisi dan keadaan yang memilukannya. Yaitu mengubah para penguasa yang menjadi sumber bencana, dan memerangi rakyatnya sendiri, dengan para penguasa yang siap memerangi para musuhnya yang telah menduduki negeri-negeri kaum Muslim di Palestina, Irak, Afghanistan, dan neger-negeri Arab dan negeri-negeri kaum Muslim lainnya.
Mengapa umat Islam belum juga mengambil kendali kekuasaannya, menyatukan dirinya, dan mendirikan negaranya yang akan menerapkan Islam secara sempurna; mengemban risalah, cahaya, dan petunujuk bagi semua umat manusia, sehingga umat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari kezaliman dan kejahatan Amerika dan negara-negara Demokrasi Kapitalis menuju keadilan Islam; dan mengembalikan kedudukan kaum Muslim pada kedudukan yang seharusnya di antara umat-umat yang lain, dan bahkan menjadikan negaranya sebagai negara nomor satu di dunia, yaitu negara yang akan menjadi impian semua generasi bangsa, dan negara yang akan memberikan keadilan kepada semua umat manusia, di manapun ia berada.
(Ahmad al-Khatib ; Anggota Maktab I’lami Hizbut Tahrir di Palestina)
Read all and give comment please...
Obama Menyerang Negeri-Negeri Kaum Muslim, Mulai Dari Rezim Turki Hingga Rezim Mesir Melewati Rezim Pemerintahan Saudi
09 Juni 2009
Belum sampai dua bulan Obama berkunjung ke Istanbul dan memberikan pidato di sana, sekarang ia mengarahkan tagetnya ke wilayah Kinanah (Mesir) melewati jazirah Arab, kemudian ia disambut oleh rezim Mesir pada hari Kamis pagi (4/6/2009) dengan sambutan bak pahlawan yang baru pulang dari medan tempur dengan membawa kemenangan!
Sejak pukul sembilan pagi, di mana pesawat yang ditumpanginya akan mendarat, bahkan sebelum itu, sudah tampak penjagaan sangat ketat. Pasukan keamanan tersebar di mana-mana. Berbagai bungan dan hiasan ucapan selamat berjajaran menyambut presiden Amerika, pemimpin kekufuran, yang hingga kini masih saja menumpahkan darah umat Islam di Afghanistan, Pakistan, dan Irak ….
Sungguh, rezim Mesir telah menyiapkan di setiap sudut berbagai jenis parade, kavaleri, mobil-mobil mewah, dan musik… Kemudian, pemimpin rezim Mesir menyambutnya dari pintu Istana Kubah dengan sambutan yang penuh kehangatan dan penghormatan. Lalu, dari sana Obama pergi menuju Universitas Kairo untuk menempati mimbar kehormatan yang telah disiapkannya, dan menyampaikan pidato kepada kaum Muslim!
Substansi pidato yang disampikan Obama tidak berbeda dengan kebijakan umum mantan presiden Amerika dan mantan-mantan presiden sebelumnya, baik dalam hal perang yang dilancarkan Amerika atas negeri-negeri kaum Muslim, isu palestina, hubungan erat dengan entitas Yahudi, isu senjata nuklir, dan isu-isu lainnya. Isi pidato Obama tidak keluar dari upaya merealisasikan kepentingan Amerika, mulai dari awal hingga akhir, semuanya mencoba untuk menarik opini publik kaum Muslim agar “memahami” bahwa perang yang dilancarkan Amerika di negeri-negeri kaum Muslim adalah benar.
Namun demikian, pidato yang disampaikan Obama dalam hal bentuk, memiliki keistimewaan melebihi para pemimpin sebelumnya dengan penipuan yang begitu sempurna. Sehingga yang ditemukan dari mendengarkan perkataannya tidak lebih dari upaya membangun hubungan umum karena keterampilannya dalam seni penipuan dan penyesatan. Allah SWT berfirman:
)وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ(
“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (TQS. Al-Munafiqun [63] : 4).
Inilah hal-hal yang isinya tidak lebih dari upaya membangun hubungan umum. Sedangkan dalam hal-hal yang sensitif, dan isu-isu yang terindera kadar kualitas dan kuantitasnya, maka isi pidato itu merupakan suatu yang sangat tajam, pedas, jelas, dan tanpa ditutup-tutupi lagi mengenai permusuhannya terhadap isu-isu kaum Muslim. Allah SWT berfirman:
)يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ(
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (TQS. Ali Imran [3] : 118).
Sejak awal ia telah melontarkan berbagai ancaman kepada mereka yang disebut dengan ekstremis “teroris” di Afghanistan dan Pakistan. Terhadap mereka itu, ia tidak pernah bersikap toleran. Bahkan ia memprovokasi berbagai negara untuk berperang di pihaknya. Dengan bangganya ia mengatakan bahwa dirinya telah mengumpulkan 46 negara untuk berperang membantunya di Afghanistan.
Tidak hanya itu, bahkan ia telah membombardir Pakistan, baik secara langsung maupun tidak. Dalam hal ini, ia tidak merasa bersalah sama sekali. Bahkan ia menilai itu sebagai pembunuhan yang “mulia”, meski yang dibunuhnya adalah kaum perempuan, anak-anak, dan orang tua. Sungguh semua itu terlihat jelas di Afghanistan. Insiden pembunuhan itu dibenarkan tentara Obama, namun mereka mengatakan semua itu terjadi karena kekeliruan bukan kesengajaan!!
Jika demikian, mereka itulah para ekstremis yang sesungguhnya. Namun biasanya Obama menilai seorang Muslim yang berpegang teguh dengan agamanya, yang tidak ingin negerinya diduduki dan dijajah oleh Amerika, atau seorang Muslim yang tidak ingin tempat-tempat sucinya dirampas oleh bangsa Yahudi, maka orang seperti inilah yang dinilainya sebagai ekstremis “teroris!”
Meski telah jelas berbagai kejahatan yang dilakukannya dan pembunuhan secara brutal terus dilakukannya di Afghanistan, Pakistan, dan Irak. Namun ia tak henti-hentinya mengatakan bahwa ia tidak ingin memerangi Islam dan kaum Muslim, seperti yang telah ia katakan di Turki.
Sungguh benar sekali Rasulullah SAW yang telah memberi gambaran tentang siapa orang yang tidak punya malu itu dengan sabdanya:
«إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»
“Jika Anda tidak punya malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR.Muslim).
Tentara Amerika telah melakukan pembantaian di negeri-negeri kaum Muslim dan melancarkan peperangan yang membinasakan dan menghancurkan terhadap kaum Muslim, yang berlangsung selama siang dan malam. Akibatnya, ribuan nyawa melayang dan jutaan orang mengungsi meninggalkan negerinya yang sebelumnya telah memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada mereka. Namun demikian, Obama masih saja mengatakan bahwa ia tidak akan memerangi kaum Muslim!
Kemudian ketika ia pindah ke isu Palestina dalam pidatonya itu, maka ia dengan jelas menyatakan kuatnya hubungan keamanan Amerika dan hubungan lainnya, yang semuanya itu tidak dapat dipisahkan dengan negara Yahudi yang telah merampas Palestina. Negara ini harus tetap dengan apa yang telah dirampasnya dan harus membangun institusi di atasnya. Ia sangat tidak rela jika hal itu ada yang mengusiknya atau menawarkan alternatif lain! Kemudian, ia menekankan solusi dua negara, yaitu pengakuan akan hak bangsa Yahudi atas sebagian besar wilayah Palestina, sementara sisanya yang tinggal sedikit, disebut dengan negara bagi warga Palestina.
Kemudian dengan polosnya, ia pun menggelitik perasaan masyarakat bahwa ia ingin menghentikan pembangunan pemukiman, bukan penghapusan setiap permukiman. Tetapi ia baru akan menghentikannya setelah entitas Yahudi melihat adanya tempat yang layak dan aman bagi institusi mereka; jika tidak, maka mereka akan membangun benteng dan puri! Keinginan menghentikannya itu pun tidak akan dilakukan begitu saja, tetapi ada persyaratannya, yaitu harus menghentikan setiap bentuk perlawanan dan permusuhan terhadap Yahudi. Hal itu dinyatakan dan ditegaskan dalam peta jalan kematian!
Kemudian pidatonya memasuki isu senjata nuklir. Dalam hal ini, ia fokus pada Iran. Ia menginginkan wilayah Timur Tengah bersih dan bebas dari senjata nuklir, dan mencegah perlombaan senjata nuklir di dalamnya. Di sini, ia sama sekali tidak menyebutkan entitas Yahudi meski hanya satu kata. Padahal, semua tahu bahwa institusi Yahudi adalah negara berkekuatan nuklir!
Dengan demikian, semua yang terdapat dalam pidatonya merupakan penentangan terhadap isu-isu kaum Muslim. Sungguh, rezim Mesir telah mempersiapkan untuk semua ini. Di mana kedatangan Obama tak lain untuk menyerang melalui tipu daya, kelicikan, dan manisnya kata-kata. Dengan semua itu ia mencoba untuk menutupi darah bersih tak bersalah yang sudah dan yang akan ditumpahkan oleh tentaranya di Afghanistan, Irak, dan Pakistan. Rezim Mesir telah menyiapkan sistem untuk memobilisasi orang-orangnya yang akan bersorak-sorai dan memberikan aplus atas tindakan jorok, keji, dan beracun ini, sehingga yang terlihat seolah-olah di sana ada persetujuan dari orang-orang Mesir atas racun yang ditiupkan oleh Obama dalam pidatonya.
Sesungguhnya sorak-sorai dan aplus yang palsu ini terlihat jelas sekali bagi setiap orang yang kedua matanya sehat. Jika tidak, bagaimana ia memberikan aplus atas perkataannya tentang solusi dua negara? Apakah seorang Muslim rela, apalagi bersorak-sorai dan memberikan aplus terhadap keinginan membagi-bagi tanah yang penuh barakah, dan tanah tempat Isra’ dan Mi’raj, antara pemilik yang sah dengan orang yang telah merampasnya?
Bagaimana mungkin ia bersorak-sorai memberikan aplus, padahal ia telah mendistorsi firman Allah dari makna yang sebenarnya, ketika ia menyitir firman Allah SWT:
)مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا(
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (TQS. Al-Maidah [5] : 32).
Ayat ini oleh Obama ditujukan kepada mereka yang disebut dengan ekstremis Muslim. Padahal ayat ini merupakan ayat yang pertama kali diturunkan kepada Bani Israel. Namun, Obama melihat seorang Muslim yang membela agamanya, keluarganya, dan memerangi orang-orang yang menyerangnya, maka orang seperti ini menurut Obama telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, apa yang dilakukan oleh entitas Yahudi, yang membunuh warga Palestina, merampas tanahnya, mengusir dari rumah-rumahnya, merampas kehormatan, dan kesuciannya, dan kerusakan demi kerusakan yang dilakukannya, maka semua itu di mata Obama bukan pembunuhan bagi semua manusia. Begitu juga, pembantaian yang dilakukan Amerika terhadap kaum Muslim, di mata Obama juga bukan pembunuhan semua orang. Allah SWT berfirman:
)كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا(
“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (TQS. Al-Kahfi [18] : 5).
Bagaimana mungkin ia bersorak-sorai memberikan aplus, padahal dengan jelas ia mengumumkan bahwa masalah di Palestina bukan pada pemukiman, tetapi pada usaha melanjutkan pemukiman, maka itulah yang tidak sah! Apakah orang-orang yang tidak termasuk orang-orangnya rezim akan ikut-ikutan bersorak-sorai memberikan aplus atas perkataan buruk dan keji ini?
Kemudian, bagaimana mungkin ia bersorak-sorai memberikan aplus kepadanya, padahal dengan jelas ia mengumumkan bahwa al-Quds (Yerusalem) yang dibebaskan oleh Umar dan para panglimanya melalui perjanjian Umariyah, yang menetapkan bahwa tidak seorang pun orang Yahudi yang boleh tinggal di dalamnya, lalu dibebaskan oleh Shalahuddin. Namun dengan seenaknya Obama mengumumkan bahwa tanah itu dikuasai bersama antara bangsa Yahudi, orang-orang Kristen, dan kaum Muslim? Padahal al-Quds (Yerusalem) sudah biasa disebut dengan bangsa Timur, sebaliknya tidak pernah ia disebut dengan bangsa Barat!!
Sungguh, sorak-sorai dan aplus itu terlihat jelas sekali dustanya. Rezim yang disiapkannya ternyata tidak mampu menyembunyikan, meskipun telah disiapkan panggung sandiwara untuk Obama agar wajahnya terlihat bagus, toleran dan adil. Namun, pada saat yang sama ia harus menutupi aib rezim Mesir yang selalu mengekor kepada Amerika dalam persoalan kecil maupun besar, hingga pandangannya yang netral untuk Palestina, antara entitas Yahudi yang merampas Palestina dengan warga Palestina, tetapi sikap netralnya melampaui batas hingga menjadikannya berpihak pada entitas Yahudi!
Wahai kaum Muslim
Sesungguhnya, Obama mendatangi anda dengan “pakaian ibadah”, agar ia dapat memanfaatkan anda, sementara anda tidak merasa dimanfaatkan. Dengan begitu, ia lebih berbahaya dari orang yang terang-terangan dan secara terbuka memusuhi anda. Namun, anda sepakat urusan anda diserahkan kepadanya. Padahal kenyataannya Amerika yang mencerminkan watak Bush tidak jauh darinya. Sungguh bagi Amerika berada di bumi anda terasa sangat sempit, meski para anteknya menjadi penguasa anda.
Sungguh Amerika berada dalam kepanikan dan ketakutan terhadap anda, padahal Amerika dilengkapi dengan senjata berat dan modern. Jika tidak demikian, tentu Amerika akan menyatakan secara terbuka permusuhannya terhadap anda. Adapun Obama, maka ia ingin anda bersorak-sorai dan memberikan aplus karena ia telah menduduki negeri dan membunuh rakyat. Dengan senyumannya yang manis ia berharap cinta dan kesetiaan dari anda!
Dia memberimu sesuatu yang manis dari ujung lisannya
Sementara ia menerkammu layaknya seekor srigala
Wahai kaum Muslim
Obama tidak memilih menyerang negeri-negeri kaum Muslim dengan tanpa pertimbangan. Ia memulai dari Istanbul, melewati wilayah Jazirah, dan berakhir di wilayah Kinanah (Mesir). Ia tidak memilih hal itu secara ngawur, namun dengan penuh kesadaran. Istanbul merupakan wilayah al-Fatih, ibu kota Khifaha yang pernah berdiri kokoh di hadapan dominasi Yahudi atas Palestina. Ia juga menyadari bahwa wilayah Jazirah adalah ibu kota Khilafah yang pertama, yang darinya Umar membebaskan al-Quds (Yerusalem). Dan ia juga menyadari bahwa wilayah Kinanah (Mesir) adalah pusat kekuasaan Shalahuddin, yang darinya beliau membebaskan al-Quds (Yerusalem) dari kaum salibis.
Ia menyadari semua itu, karenanya ia datang ke negeri-negeri tersebut membawa pesan untuk umat Islam bahwa era kemuliaan anda dulu sudah lenyap dan berakhir. Sementara negara dan kekuasaan sekarang ada di tangan Obama dan sekutunya, serta di bawah hegemoni Amerika.
Sungguh, kaum kafir penjajah lebih banyak mengetahui pusat-pusat kekuatan umat Islam dari pada kaum Muslim sendiri. Mereka mempelajari sejarah kita, mempelajari agama kita, mengerti kantong-kantong kekuatan kita, dan mengerti karakteristik-karakteristik kebaikan yang diemban umat kita. Jadi, bukan hal yang kebetulan Obama menyitir firman Allah SWT:
)يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا(
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.” (TQS. Al-Hujurat [49] : 13).
Dan ia berhenti sampai pada menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Ia tidak meneruskan sampai akhir ayat, yaitu:
)إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ(
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (TQS. Al-Hujurat [49] : 13).
Ia tidak menyebutkan takwa yang akan menjadikan umat Islam paling mulia dan paling perkasa, sebaliknya dengan ketakwaan umat Islam akan menjadikan Amerika dan pengikutnya sebagai umat yang paling rendah dan paling hina.
Wahai kaum Muslim
Sungguh, Obama dalam pidatonya itu berusaha untuk memperlihatkan bahwa dirinya adalah pemimpin dunia. Untuk itu ia menyiapkan bagi dirinya para penguasa antek di negeri-negeri kaum Muslim, di mana mereka memberinya sebuah mahkota melebihi apa yang ia inginkan. Mereka menyerahkan bumi untuknya, berbagai fasilitas dan perhiasan. Bahkan mereka memberinya beragam perhiasan dan kesenangan yang tidak mudah ia dapat di negerinya. Namun keadaan Obama dengan para anteknya seperti keadaan Fir’aun dengan kaumnya. Allah SWT berfirman:
)فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ(
“Maka Fir`aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (TQS. Az-Zukhruf [43] : 54).
Namun, apabila Obama itu cerdas dan pintar seperti yang ia coba tampakkan dalam pidatonya, ia harus menyadari bahwa wilayah Istanbul, wilayah Jazirah, dan wilayah Kinanah (Mesir) tidak pernah menerima apalagi menyambutnya. Sedang mereka yang menyambutnya adalah kumpulan para pengkhianat dari rezim-rezim yang tidak lama lagi akan disingkirkan dari kehidupan kaum Muslim.
Ia juga harus menyadari bahwa permainan kata-kata dalam pidatonya dan tipuan-tipuan pernyataan yang dilontarkan, tidak akan mampu mempengaruhi akal sehat kaum Muslim. Bahkan mereka mengerti betul apa yang ada di depan dan di belakangnya. Sesungguhnya sorak-sorai dan aplus yang didengarnya, semua itu tidak datang kecuali dari para pekerja dan pegawai yang dibayar orang-orang rezim yang mengadakan acara penyambutan.
Sungguh, Hizbut Tahrir mengumumkan kepada Obama dan dunia, bahwa Islam memiliki para pejuang yang akan menegakkan Daulah Islam untuk menjadi negara nomor satu di dunia. Bukan dengan cara mengekploitasi dunia, menjajah, dan merampas kekayaannya. Namun, ia datang untuk menegakkan keadilan, menghapus kezaliman, mengembalikan hak-hak kepada yang memang berhak. Kemudian, mengusir Amerika agar kembali ke rumahnya sendiri dalam keadaan hina dan tak berdaya, serta menghapus entitas Yahudi yang telah merampas Palestina, sehingga semuanya kembali utuh menjadi bagian dari Negara Islam. Bumi akan kembali bersinar dengan tegaknya Khilafah, dan kebaikan akan merata terasa di seluruh penjuru dunia.
)وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ(
“Dan Allah berkuasa terhadap (terwujudnya) urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya.” (TQS. Yusuf [12] : 21).
Hizbut Tahrir
11 Jumadzil Tsani 1430
4 Juni 2009
Read all and give comment please...
Hentikan Adu-Domba Amerika Terhadap Sesama Muslim!
05 Juni 2009
KOMENTAR AL-ISLAM:
Presiden PKS Tifatul Sembiring: “Soal selembar kain saja (kerudung, red.) kok dirisaukan.” (Majalah Tempo, 1-7/6/2009).
Kerudung/jilbab adalah kewajiban dari Allah. Dosa besar jika dianggap remeh!
Pada tanggal 8 Mei 2009, Perdana Menteri Pakistan Yousuf Riza Gillani mengumumkan di televisi nasional tentang dimulainya perang di Lembah Swat. Dalam pidatonya ia mengatakan, “Demi kesucian tanah dan demi kehormatan nasional, militer telah disebar untuk menekan ekstremis demi melindungi masyarakat.”
Namun demikian, keputusan Perdana Menteri tersebut hakikatnya adalah semata-mata untuk mengembalikan kehormatan militer Amerika yang telah mencaplok negeri dan untuk menyelamatkan keberadaan militer Amerika yang terpuruk di Afganistan.
Meskipun militer Amerika bersama dengan NATO menggunakan persenjataan mutakhir, mereka takut menghadapi para mujahid yang jumlahnya kecil dengan perlengkapan seadanya. Apalagi krisis ekonomi mencekik Amerika. Lesunya pertumbuhan ekonomi Amerika dan kelemahannya untuk membuat solusi telah menyebabkan Amerika kehilangan dukungan politis dan praktis, khususnya dari sekutu-sekutunya.
Karena itu, Amerika berupaya bersandar pada militer Pakistan untuk menyelamatkan diri dari dasar jurang Afganistan. Amerika meminta militer Pakistan bergerak cepat untuk berperang bersama Amerika dan mendukung Amerika dalam memerangi Afganistan.
Amerika memahami bahwa kaum Muslim di Pakistan membenci Amerika. Amerika juga memahami bahwa kaum Muslim Pakistan tidak akan mendukung keberadaan Amerika di Pakistan dan tidak akan menyetujui penggunaan militer Pakistan demi kepentingan perang Amerika. Perasaan yang sama terhadap Amerika juga ada di tengah-tengah barisan militer Pakistan. Semua itu menjadi hambatan bagi Amerika dalam memanfaatkan militer Pakistan secara efektif. Karena itu, Amerika sengaja menciptakan kekacauan. Kondisi kekacauan ini mendorong para mujahid di Afganistan mengubah arah moncong senjata mereka jauh dari dada musuh hakiki mereka, yaitu Amerika, dan mengarahkannya ke dada-dada saudara-saudara mereka di dalam militer Pakistan.
Dari sisi yang lain, aksi tersebut akan mengaburkan fakta sebenarnya, bahwa yang berada di belakang kondisi kekacauan di kawasan adalah serangan Amerika di Afganistan yang didukung oleh pemerintah Pakistan dengan seluruh potensinya dengan menyediakan jalur-jalur suplai makanan, senjata dan logistik lainnya bagi militer Amerika dan NATO. Pada saat yang sama, militer Pakistan menyebar di tapal batas antara Pakistan-Afganistan untuk menghalangi para mujahid Pakistan memerangi militer Amerika di Afganistan.
Inilah hakikat aksi militer yang dilakukan pemerintah Pakistan. Aksi ini telah mengakibatkan ratusan ribu orang menjadi pengungsi. Para wanita Muslimah yang mulia pun harus menghabiskan hari-hari mereka dengan beratapkan langit dan beralaskan bumi. Aksi militer ini juga mengakibatkan para orang tua dan anak-anak merasa putus asa dan tersiksa, serta banyak keluarga menderita. Rumah-rumah, pasar-pasar, sekolah-sekolah dan toko-toko telah luluh lantak; darah-darah kaum Musim pun tertumpah tanpa perlawanan.
Pemerintah Pakistan juga memanfaatkan para milisi untuk menumpahkan darah masyarakat. Tujuannya adalah untuk menciptakan gambaran buas dan brutal pada diri para mujahid supaya terbentuk opini umum yang bisa melegalisasi politik pemerintah. Pemerintah mengeksploitasi serangan ke akademi kepolisian di Lahore dan menyebarkan rekaman video yang menampakkan seorang wanita dicambuk di kawasan Swat. Hal itu dimaksudkan untuk membuka jalan bagi dilakukannya aksi militer ke Swat, juga untuk melegalkan aksi militer itu di hadapan masyarakat. Semua itu dilakukan beberapa minggu sebelum dimulainya aksi militer.
Namun, mengapa Pemerintah tidak menganggap serangan-serangan dan pembunuhan yang dilakukan militer Amerika terhadap anak-anak, para wanita dan orang dewasa di kawasan Waziristan dan Banu sebagai ancaman bagi hak Pemerintah? Mengapa Perdana Menteri tidak tampil di siaran televisi dan mengumumkan perang terhadap mereka (militer Amerika), para pengancam itu? Ataukah berbagai serangan itu bukan merupakan ancaman?
Lalu jika memang Perdana Menteri Gillani ingin membela kehormatan kaum Muslimah, mengapa dia tidak membela kehormatan putri umat Dr. Afia Shiddique, yang ditahan di penjara Amerika, sementara anak-anaknya masih tak ditemukan? Mengapa Pemerintah tidak melakukan aksi apapun atau mengeluarkan ucapan apapun tentang Dr. Afia Shiddique selama pertemuan Pemerintah Pakistan yang berulang-ulang dengan orang-orang Amerika?
Wahai kaum Muslim di Pakistan!
Sesungguhnya Pemerintah Pakistan adalah pengkhianat terhadap Islam dan kaum Muslim. Sesungguhnya para penguasa Pakistan telah mengakibatkan sebagian kaum Muslim memerangi sebagian yang lain untuk melindungi Amerika. Padahal Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا
Siapa saja yang membunuh seorang Mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam; ia kekal di dalamnya; Allah pun murka kepadanya, mengutukinya dan menyediakan azab yang besar baginya (QS an-Nisa’ [4]: 93).
Rasulullah saw. juga bersabda:
«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فِسْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»
Mencaci seorang Muslim adalah kafasikan dan membunuhnya adalah kekufuran (HR al-Bukhari Muslim).
Sesungguhnya kejahatan Pemerintah Pakistan sangat besar. Celakalah para penguasa yang telah menjerumuskan dirinya ke derajat paling hina untuk mencari keridhaan kaum kafir. Sungguh benar sabda Rasul saw.:
«انَّهُ سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ مَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ»
Sesungguhnya sesudahku akan ada para pemimpin. Siapa saja yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezaliman mereka, maka ia bukan bagian dari golonganku, aku bukan bagian dari golongannya dan ia tidak akan merasakan kenikmatan telaga. Sebaliknya, siapa saja yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kezaliman mereka, maka ia termasuk golonganku, aku pun termasuk golongannya dan ia akan merasakan kenikmatan di talaga bersamaku (HR an-Nasai).
Sesungguhnya para penguasa itu tidak memiliki rasa benci sedikitpun terhadap Amerika, yang telah menyiksa tahanan di Abu Ghraib dan Guantanamo secara brutal. Para tahanan kaum Muslim, laki-laki dan perempuan, ditumpuk satu di atas yang lain di dalam satu sel. Al-Quran mereka injak-injak. Wajah para tahanan disiram dengan kotoran manusia. Mereka pun disiksa dengan arus listrik. Meski semua itu terjadi, para penguasa itu tetap saja melihat peradaban Amerika sebagai puncak peradaban!
Sesungguhnya para penguasa itu telah menanggalkan semua kehormatan dan kemuliaan dari dirinya ketika bertemu dengan para penjahat itu seraya menampakkan kebencian dan kedengkian terhadap Islam, hukum-hukumnya dan sistem peradilannya.
Wahai Kaum Muslim di Pakistan!
Sampai kapan Anda akan tetap diam, padahal mereka terus membuat makar terhadap putra-putra Anda di antara kekuatan bersenjata, dengan menyerang dan menyiksa saudara-saudara mereka, kaum Muslim? Bergabunglah Anda dengan Hizbut Tahrir di dalam aksi untuk menghentikan aksi militer tersebut. Rasul saw. bersabda:
«كَلَّا وَاللَّهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ وَلَتَأْخُذُنَّ عَلَى يَدَيْ الظَّالِمِ وَلَتَأْطُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ أَطْرًا وَلَتَقْصُرُنَّهُ عَلَى الْحَقِّ قَصْرًا أَوْ لَيَضْرِبَنَّ اللَّهُ بِقُلُوبِ بَعْضِكُمْ عَلَى بَعْضٍ ثُمَّ لَيَلْعَنَنَّكُمْ كَمَا لَعَنَهُمْ »
Ingatlah, demi Allah, apakah kalian sungguh-sungguh akan melakukan amar makruf nahi mungkar serta menghalangi tangan orang-orang zalim, lalu menariknya pada kebenaran dan menjaganya agar tetap di atas kebenaran; ataukah Allah akan membuat hati sebagian kalian membenci sebagian yang lain? Sungguh, Allah akan mengutuk kalian sebagaimana Dia telah mengutuk mereka (Bani Israel) (HR Abu Dawud).
Wahai Para Ulama Pakistan!
Anda bersikap diam terhadap pembantaian Masjid Lal (Masjid Merah) yang menjadikan Musharraf berhasil melakukan kejahatannya dan menumpahkan darah kaum Muslim, wanita dan anak-anak di masjid dan di madrasah di Ibukota Pakistan. Rasa sakit dari pembantaian itu masih terus terasa di hati kaum Muslim. Apakah Anda akan bersikap mulia dengan menghentikan para penguasa yang melanjutkan aksi mereka yang menghancurkan itu? Bangkitlah dan bangkitkanlah seluruh murid-murid di sekolah-sekolah Anda! Lalu bergeraklah ke singgasana para penguasa itu sebelum mereka menghancurkan seluruh masjid dan sekolah di Afganistan dan kawasan persukuan!
Wahai Para Politisi Partai Politik Pakistan!
Anda semua mengklaim memelihara urusan-urusan masyarakat di Pakistan. Apakah ada di antara Anda orang-orang cerdas yang mengoreksi para penguasa itu, dengan suatu koreksi yang layak untuk mereka yang telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum Mukmin? Jika Anda tidak melakukannya, apakah Anda tidak takut Allah akan menurunkan azab kepada Anda semua karena kezaliman penguasa itu pada Hari Kiamat kelak? Rasulullah saw. bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلَا يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللَّهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ»
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak mengazab masyarakat karena perbuatan orang-perorang hingga mereka melihat kemungkaran dilakukan di hadapan mereka dan mereka mampu mengubahnya, tetapi mereka tidak mengubahnya. Jika mereka melakukan yang demikian Allah pasti mengazab orang-perorang itu dan masyarakat secara umum.
Wahai Para Tentara Muslim!
Tidakkah Anda rindu untuk berperang di jalan Allah SWT untuk meninggikan kalimat Lâ ilâha illaLlâh Muhammad RasûluLlâh daripada menumpahkan darah Anda di jalan penguasaan Amerika atas para pemimpin umat Anda? Lalu sampai kapan Anda akan terus menjadi alat di tangan para penguasa itu yang memanfaatkan Anda menjadi bahan bakar di dalam perang Amerika terhadap Islam? Ingatlah, campakkan para penguasa itu dan berikan nushrah (pertolongan) kepada Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah yang akan melenyapkan debu-debu kehinaan dan aib dari diri Anda dan mengubah Anda menjadi pasukan kaum Mukmin yang menyebarkan cahaya Islam di seluruh penjuru bumi. []
Read all and give comment please...
Hudoyberdiyev Aktivis Hizbut Tahrir Akhirnya Syahid Ditangan Rezim Bengis Uzbekistan Karimov
03 Juni 2009

Setelah dipenjara dan mengalami penyiksaan yang sangat keji oleh rezim bengis Uzbekistan Karimov, seorang anggota Hizbut Tahrir yang bernama Ismat Hudoyberdiyev, 52, akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir di Penjara Zarafshon No. 64/48. Lembaga Aktivis Hak Asasi Manusia Uzbekistan juga melaporkan hal yang sama seperti yang dinyatakan media Uzbekistan. Kematian Ismat Hudoyberdiyev itu telah menambah bilangan syuhada pejuang Khilafah di Uzbekistan seperti Farhad Usmanov yang telah syahid sebelumnya.
Lembaga Hak Asasi Manusia menerima informasi yang menyatakan Ismat Hudoyberdiyev yang berasal dari Daerah Surhandarya telah menjalani hukuman itu sejak tahun 2002, dan akhirnya meninggal dunia akibat daripada penyiksaan yang dilakukan terhadapnya .
Bagi isterinya, Musharraf, ini adalah kali kedua dia kehilangan suami yang sama-sama syahid di jalan dakwah untuk memperjuangkan Khilafah. Musharraf sebelumnya menikah dengan Farhad Usmanov yang kemudian syahid akibat kezoliman Karimov. Usmanov, anak seorang imam besar Uzbekistan ,mempunyai enam orang anak. Dia ditangkap ketika berusia 42 tahun pada musim panas tahun 1999, atas tuduhan menjadi anggota Hizbut Tahrir. Setelah ditangkap dia dipenjarakan kementerian Dalam Negeri di Tashkent. As Syahid Usmanov disiksa hingga syahid pada hari ke-11.
Pada tahun 2002, Musharraf (janda Usmanov) menikah dengan Ismat Hudoyberdiyev. Dia juga ditangkap pada tahun yang sama. Setelah beberapa bulan menunggu, Musharraf telah meminta bantuan Lembagah Hak Asasi Manusia karena merasa kawatir keselamatan suami keduanya yang kemungkinan disiksa dan dibunuh, sebagaimana Farhad Usmanov.
Ia mengatakan kepada organisasi tersebut, bahwa dia tidak dapat menghubungi suaminya selama enam bulan . Pihak penjara mengatakan kepadanya Hudoyberdiyev telah dimasukkan ke dalam penjara.
“Dia berkata, dia telah menyadari pegawai penjara telah menyiksa suaminya secara sistematis, dan dia membuat laporan kepada jaksa umum dan direktur kriminal Kementerian Dalam Negeri Uzbekistan, namun dia tidak menerima informasi sedikitpun,” kata Lembaga Hak Asasi Manusia .
Kini, tanggungjawab mengasuh dan membesarkan sembilan orang anaknya yang masih di bawah umur terletak di bahu Musharraf. Insya Allah dia termasuk ke dalam kelompok para isteri solehah yang terus berjuang setelah kehilangan suami untuk selama-lamanya akibat perbuatan zalim Islam Karimov. Sesungguhnya ganjaran yang menanti para wanita sholehah adalah syurga Allah.
Demikianlah betapa beratnya ujian yang dihadapi oleh para pengemban dakwah di bumi kelahiran Imam Bukhari. Para penyebar risalah dakwah yang ikhlas telah dibunuh dengan kejam tanpa perikemanusiaan oleh rezim penguasa yang korup. Masalah ini sudah semestinya menjadi agenda utama umat Islam seluruh dunia saat ini. Sebab, orang-orang mukmin itu adalah bersaudara di antara satu dengan lainnya. Kaum muslim wajib membebaskan saudara mereka dari kezaliman penguasa yang jahat.
Ujian dakwah seperti ini bukanlah sesuatu yang baru di dalam perjuangan dakwah. Setiap perjuangan dakwah pasti akan diuji oleh Allah SWT dengan pelbagai rintangan sebagaimana juga dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat ketika mereka berada di Mekah. Pada saat itulah kemenangan dakwah semakin jelas dan hampir. InsyaAllah, hal yang sama akan terjadi pada zaman ini.
Islam tidak akan dapat dilenyapkan walaupun para pejuangnya dibunuh. Justru, para mukhlisin (orang-orang yang ikhlas) yang memperjuangkan penegakkan Daulah Khilafah akan dapat melihat dengan nyata bahwa pertolongan Allah semakin dekat. Sehingga tibalah masanya, Khilafah Rasyidah kali kedua kembali didirikan dan memancarkan cahaya Islam ke seluruh alam. Insya Allah (www.mykhilafah.com)
Read all and give comment please...
Amerika Musuh Utama Umat Islam

Amerika dengan pemerintahan Obama melancarkan serangan sapu bersih terhadap sebagian besar negeri-negeri Islam dan umat Islam. Amerika mengobarkan perang saudara, menekan para penguasa anteknya agar menerapkan politik agresi dan permusuhan Amerika, dan mempermainkan urusan-urusan politik dalam dan luar negeri di negeri-negeri Islam yang lain.
Di Pakistan, Amerika telah berhasil melibatkan pasukan Pakistan dalam perang melawan Taliban secara komprehensif. Dalam merealisasikan tujuannya, Amerika dibantu oleh komandan militer dan presiden Pakistan, dimana keduanya menyatakan perang yang akan berlangsung lama terhadap gerakan Taliban.
Dengan mengobarkan perang saudara di Pakistan, maka terjadilah bencana lain yang membuat rakyat Pakistan terus menderita, jutaan rakyat Pakistanis lari dari lembah Swat, sehingga kamp-kamp pengungsi tidak lagi mampu menampung mereka, bahkan organisasi dari PBB mengumumkan terjadinya krisis kemanusiaan yang tidak menutup kemungkinan akan menjadi malapetaka kemanusiaan yang luar biasa.
Para petinggi Pakistan bukannya meninggalkan ketidakadilan, menghentikan peperangan, dan menolak pendiktian, serta campur tangan Amerika untuk kepentingan rakyat mereka, justru mereka semakin jauh melakukan ketidakadilan, bahkan mereka menuntut lebih banyak dukungan militer Amerika dan militer Inggris untuk terus melancarkan peperangan. Untuk itu, Zardari menandatangani strategi pakta pertahanan di London, dengan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, serta meminta kepada Amerika untuk menambah pesawat-pesawat pengintai tanpa awak untuk membombardir benteng-benteng gerakan Taliban.
Di Somalia, Amerika Serikat, negara-negara Afrika, dan negara-negara Arab mendukung sikap Presiden Somalia, Syarif Sheikh Ahmed ketika mengumumkan perang melawan Gerakan Pemuda Mujahidin dan Partai Islam. Dalam sepuluh hari saja telah membunuh puluhan warga. Bahkan perang saudara di Somalia yang didukung oleh Amerika masih terus melayangkan nyawa-nyawa warga. Sehingga, penderitaan demi penderitaan terus membayangi rakyat Somalia, padahal selama ini mereka telah diselimuti penderitaan yang disebabkan oleh peperangan, kemiskinann, dan kekeringan.
Di Palestina, dan di sekitar negara-negara Arab, Perdana Menteri Negara Yahudi mengadakan perjalanan di Sharm el-Sheikh dan Amman. Anehanya, ia disambut dengan penuh kehangatan, padahal ia terang-terangan menolak semua solusi damai dengan mereka, para penguasa. Tentu pemandangan memalukan itu tidak akan pernah terjadi, seandainya tidak ada tekanan dari Amerika terhadap mereka, para penguasa pengkhianat itu agar menyambutnya. Bahkan, Amerika melalui Obama menuntut semua negara Arab dan negara yang ada di dunia Islam agar menormalisasi hubungan dengan entitas Yahudi sebagai prasyarat untuk mencapai apa yang disebut dengan proses perdamaian.
Sesungguhnya permusuhan Amerika yang terang-terangan terhadap kaum Muslim ini harus disikapi dengan permusuhan yang sama. Sehingga tidak boleh mengikuti apa yang didektikan oleh Amerika, dan tidak boleh memperlihatkan keramahan apapun kepada Amerika dan sekutunya yang telah banyak membuat problem-problem besar di tengah-tengah umat Islam.
Memperlihatkan permusuhan, mengobarkannya, dan menanamkannya merupakan perkara yang mungkin dan mudah. Kami melihat negara-negara Amerika Latin saja bisa membangun permusuhan terhadap Amerika Serikat, dan sukses hingga dalam beberapa hal mampu menghentikan agresi Amerika di Amerika Latin.
Termasuk paradok politik yang mengherankan bahwa negara-negara yang tidak mengenal Islam dan tidak mengenal ideologi besar berhasil membangkitkan rakyatnya untuk melawan dan memusuhi Amerika, sementara negara-negara yang ada di dunia Islam yang sedang mengalami kelumpuhan yang kronis belum mampu mengambil inisiatif untuk melawan arogansi Amerika. Lihatlah Burma – Myanmar – yang menghakimi pemimpin oposisi, Aung San Suu Kyi dengan tuduhan berkomplot dengan Amerika hanya karena ia bertemu dengan para utusan AS di rumahnya ketika ia dikenakan tahanan rumah.
Sesungguhnya yang harus dilakukan umat Islam adalah membangun kembali sikap permusuhan terhadap Amerika dan itu dilakukan dengan serempak sehingga menjadi opini umum di tengah-tengah umat Islam bahwa Amerika adalah musuh utama yang senantiasa mengancam kehidupan mereka semua. (mb/al-aqsa.org)
Read all and give comment please...
Umat Membutuhkan ‘Ulama Akhirat’
28 Mei 2009
KOMENTAR:
Rakyat jangan berharap banyak pada Parlemen baru (Kompas, 26/5/2009).
Memang, karena mereka hanya akan mengokohkan sekularisme.
[Al-Islam 457] Pemilihan Presiden dan Wapres (Pilpres) 2009 akan digelar tidak lama lagi setelah pengumuman tiga pasangan capres-cawapres dalam beberapa pekan terakhir. Berbagai strategi dan cara digelar untuk meraih kemenangan. Yang menarik, setiap pasangan capres-cawapres merasakan kebutuhan dukungan dari ‘penguasa non-formal’ yang ada di tengah-tengah masyarakat. Mereka adalah para ulama, kiai, tuan guru, tengku dan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. Setiap menjelang Pemilu, termasuk Pilpres kali ini, mereka sering kedatangan tamu tim sukses pasangan capres-cawapres, atau bahkan langsung pasangan capres-cawapresnya.
Di sisi lain, ada sebagian orang dengan julukan kiai atau ulama bertandang ke kediaman pasangan capres-cawapres. Ada pula yang bertemu di luar ‘kandang’ masing-masing dengan cara menggelar satu acara atau agenda yang bertajuk ‘keumatan’. Pada pertemuan-pertemuan tidak resmi di tengah-tengah jamaah para kiai/ulama tidak jarang “pesanan politik” juga disampaikan. Targetnya tentu saja adalah menjajaki dukungan para tokoh umat ini, dan tentu dengan kompensasi.
Akibat dukung-mendukung capres-cawapres ini, tidak jarang hubungan silaturahmi menjadi renggang hanya karena masing-masing berbeda visi dan dukungan politiknya. Masing-masing pasangan saling mengklaim bahwa mereka pro-rakyat, sementara pasangan lain pro-asing (dengan julukan neoliberal). Padahal sebenarnya semua pasangan adalah pengusung liberalisme, hanya dengan kadar yang berbeda-beda. Ini adalah fakta yang tentu sangat memprihatinkan. Umat menjadi bingung dengan arah politik para ulama dan kiai mereka. Pasalnya, masing-masing kiai/ulama memiliki tujuan politik yang semuanya bisa dikemas dengan bungkus dalil agama. Sebagian kiai/ulama itu seolah menjadi makelar dagangan yang bernama “tahta”. Mereka mengabaikan fungsi, tugas dan tanggung jawab yang sesungguhnya dalam kehidupan sosial-politik.
Lantas apakah yang perlu direnungkan oleh ulama dan umatnya terkait dengan pemilihan pemimpin saat ini? Bagaimana tanggung jawab ulama dalam kehidupan politik dan bernegara? Sejauh mana peran dan fungsi ulama dalam proses perubahan menuju Indonesia yang bersyariah, yang baldat[un] thayyibat[un] warabb[un] ghafûr?
Sekularisme: Ancaman Terbesar
Peran ulama sepanjang masa kehidupan kaum Muslim, khususnya dalam kehidupan politik, sangatlah penting. Bahkan pada masa-masa kemunduran umat Islam sekalipun, peran penting ulama dalam kehidupan politik tetap tidak tergantikan. Pasalnya, Islam memang tidak memisahkan antara kehidupan politik dan spiritual, bahkan saat umat jatuh dalam kubangan sekularisme (yang menjauhkan agama dari urusan sosial-politik-kenegaraan) saat ini, yang berdampak pada terpinggirkannya para ulama. Ulama masih memiliki tempat tersendiri dalam pribadi umat dengan berbagai alasan. Karena itu, para penguasa atau calon penguasa selalu berusaha untuk meraih dukungan mereka.
Di sisi lain, ada sebagian kiai/ulama yang merespon persoalan politik kekinian (seperti Pilpres 2009) dengan memberikan panduan kepada umatnya. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, misalnya, menyatakan bahwa pemimpin kaum Nahdliyyin memberikan dua syarat untuk calon presiden mendatang. Menurutnya, syarat pertama, calon presiden itu harus menyelamatkan agama, dan syarat kedua, calon presiden tidak membawa agenda neoliberalisme.
Pandangan dan sikap yang disampaikan oleh KH Hasyim Muzadi sebagai pimpinan kaum Nahdliyyin ini sangatlah penting untuk memberikan wawasan kepada jamaahnya agar di Pilpres bulan Juli nanti mereka tidak salah memilih (Eramuslim.com).
Sayang, pandangan dan sikap ini tidak menyentuh “sistem politik” yang tegak saat ini. Padahal menyelamatkan agama sejatinya adalah dengan menegakkan akidah dan syariah Islam dalam semua aspek kehidupan mereka, baik di ranah pribadi maupun ranah sosial-politik-kenegaraan. Semua ini tentu tidak bisa diwujudkan dalam sistem politk sekular saat ini. Sebaliknya, keselamatan agama menuntut adanya institusi negara yang menerapkan syariah Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan.
Lagipula, masalah kepemimpinan sesungguhnya terkait dengan dua faktor: sosok pemimpin dan sistem kepemimpinan yang digunakannya. Jika panduan untuk memilih pemimpin ini hanya terkait dengan sosok pemimpinnya saja, tentu hal demikian telah mengabaikan sama sekali sistemnya (yakni sistem sekular) yang justru gagal menyelamatkan agama dari pengebirian perannya sekadar sebatas penjaga moral belaka. Dalam sistem sekular saat ini, peran agama sebagai solusi atas seluruh problem kehidupan malah disingkirkan jauh-jauh. Sistem sekular ini pun sekaligus menjadi payung bagi tegaknya neoliberalisme/liberalisme dalam berbagai aspek kehidupan umat.
Karena itu, kesadaran akan bahaya sekularisme ini harus ada di benak para ulama. Singkat kata, ulama harus mulai menyadari bahwa sistem sekular inilah yang harus terlebih dulu disingkirkan dan digantikan dengan sistem Islam, yakni sistem yang menegakkan syariah Islam, sebelum umat ini benar-benar diarahkan untuk memilih pemimpinnya. Jika hal ini tidak dilakukan, siapapun pemimpin yang terpilih, yakinlah, mereka hanya akan semakin mengokohkan sistem sekular ini. Akibatnya, harapan untuk menyelamatkan agama sekaligus menjauhkan neoliberalisme akan menjadi tinggal harapan, tidak akan pernah mewujud dalam kenyataan. Pasalnya, justru sekularismelah ancaman yang sebenarnya terhadap keselamatan agama, dan sekularisme pula yang sekaligus menjadi pintu yang sangat lebar bagi masuknya neoliberalisme.
Peran dan Tanggung Jawab Ulama
Ulama adalah pewaris para nabi. Apa yang diwariskan oleh para nabi tentu tidak akan digadaikan dengan apapun, meski dengan seluruh isi bumi dan langit ini. Tentu karena para ulama adalah orang-orang yang memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Atas dasar iman dan ilmunya, ulama akan senantiasa berjuang membimbing umat untuk senantiasa hanya menghamba kepada Allah SWT secara total. Penghambaan secara total itu harus dibuktikan dengan cara menjalani dan menata hidup ini sesuai dan tuntunan (baca: syariah Islam) yang dibawa oleh Rasulullah saw., baik dalam kehidupan politik maupun spiritual, seraya berharap keridhaan Allah SWT sebagai tujuan paling puncak.
Karenanya, ulama harus menjadi penyambung lidah umat di hadapan para penguasa. Ulama harus menjadi pembimbing mereka menuju kepemimpinan yang mulia dengan Islam. Sebab, mereka semua adalah hamba-hamba Allah SWT yang juga merindukan surga.
Namun demikian, fungsi ulama akan pudar dan tertutup dengan sikap dukung-mendukung calon pemimpin tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara syar’i. Selain itu, dukungan ulama sejatinya hanya diberikan kepada mereka yang mau menegakkan akidah dan syariah Islam secara kâffah, bukan kepada mereka yang akan melanggengkan sekularisme yang nyata-nyata selalu menjadi ancaman bagi keselamatan agama dan menjadi pintu masuk bagi bercokolnya neoliberalisme.
Di sisi lain, para pemimpin atau calon pemimpin harus dekat dengan ulama semata-mata demi meminta bimbingan menuju ridha Allah SWT, dan bukan demi ‘membeli’ ulama sekadar untuk meraih atau melanggengkan kekuasaan.
Umat hari ini merindukan sosok ulama yang ikhlas berjuang dengan pengorbanan maksimal agar bisa mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliah modern, derita dan nestapa dalam kerangkeng sistem sekular-liberal; menuju cahaya Islam dalam wujud masyarakat dan negara yang bersyariah, yang berjalan di atas hidayah Islam. Itulah masyarakat dan negara yang pernah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw. dan dilanjutkan oleh para khalifah beliau.
Sifat-sifat Ulama
Karena itu, ulama harus memiliki sejumlah sifat dan karakter khas, antara lain: Pertama, senantiasa berzikir kepada Allah dalam semua keadaan. Allah SWT berfirman:
]الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ[
Mereka adalah orang-orang yang selalu mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadan berbaring (QS Ali Imran [3]: 191).
Kedua, menjauhi penghambaan kepada thâghût. Allah SWT berfirman:
]وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا[
Mereka adalah orang-orang yang menjauhi thâghût, yaitu tidak menghambakan diri kepadanya (QS az-Zumar [39]: 17).
Ketiga, senantiasa bertobat (kembali) kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:
]وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ[
Mereka senantiasa kembali kepada Allah (QS az-Zumar [39]: 17).
Keempat, selalu menghubungkan apa saja yang diperintahkan oleh Allah untuk dihubungkan seperti silaturahmi, loyal kepada sesama Mukmin, mengimani semua nabi dan menjaga semua hak manusia. Allah SWT berfirman:
]وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ[
Mereka adalah orang-orang yang senantiasa menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan untuk dihubungkan (QS ar-Ra’d [13]: 21).
Seorang ulama pasti lebih suka berdekatan dengan seorang Muslim yang taat daripada dengan mereka yang selalu memusuhi umat Islam. Ulama pun akan menjadi perekat umat, pionir ukhuwah islamiyah, dan tidak mungkin menjadi pemecah-belah umat.
Kelima, memiliki rasa takut kepada Allah dan keagungan-Nya, sebagaimana firman-Nya:
]وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ[
Mereka selalu takut kepada Tuhannya (QS ar-Ra’d [13]: 21).
Ulama hakiki akan memiliki rasa takut yang luar biasa kepada Allah. Dia akan lebih mudah menangis daripada tertawa terbahak-bahak. Tampak keanggunan dan kewibawaannya karena kekhusyukan yang memancar dalam dirinya.
Keenam, takut terhadap keburukan Hari Penghisaban, sebagaimana firman-Nya:
]وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ[
Mereka senantiasa takut pada hisab yang buruk (QS ar-Ra’d [13]: 21).
Rasa takut ini tercermin dalam ucapan dan semua perbuatannya untuk selalu menjauhi semua larangan Allah.
Ketujuh, memiliki kesabaran dalam menghadapi semua beban, kesulitan dan musibah di dunia serta senantiasa menentang kehendak hawa nafsu. Allah SWT berfirman:
]وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ[
Mereka adalah orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya (QS ar-Ra’d [13]: 22).
Semua perintah Allah adalah kewajiban dan beban yang harus dilaksanakan dengan penuh kesabaran. Demikian juga dengan musibah.
Umat Membutuhkan ’Ulama Akhirat’
Sebagaimana dimaklumi, kewajiban terbesar umat Islam hari ini adalah mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah masyarakat dengan menegakkan seluruh syariah Allah SWT. Sebaliknya, kemungkaran terbesar yang wajib ditumbangkan saat ini adalah sistem thâghût yang menerapkan hukum-hukum kufur buat manusia. Itulah sistem sekular yang tengah berlangsung saat ini.
Karena itu, saat ini umat benar-benar membutuhkan ’ulama akhirat’ yang bisa membimbing mereka untuk kembali pada Islam secara kâffah sambil terus-menerus memberikan dorongan dan dukungan terhadap perjuangan ke arah penegakkan syariah Islam. Umat membutuhkan ulama yang meneladani perjuangan Rasulullah saw. dalam mewujudkan masyarakat islami, yang menerapkan syariah Islam secara total dalam semua aspek kehidupan, dalam Daulah Khilafah. Hanya dengan itulah cita-cita umat mewujudkan baldat[un] thayyibat[un] warabb[un] ghafûr akan benar-benar terwujud, insya Allah.
Wallâhu a’lam bi ash-shawâb. []
Read all and give comment please...
Knesset Memutuskan Hukuman Penjara Bagi Yang Menolak Israel Sebagai “Negara Yahudi”
Yerusalem - Parlemen Israel (Knesset) pada hari Rabu (27/5) menetapkan pembacaan pertama rancangan undang-undang untuk memberikan hukuman penjara selama beberapa tahun bagi mereka yang menolak bahwa Israel adalah sebuah “Negara Yahudi”. Selama sesi terlihat badai penentangan dari partai-partai Arab dan partai sayap kiri terhadap perundang-undangan itu.
Ratifikasi atas rancangan undang-undang yang diusulkan oleh Zevulun Olive dari partai “Ruma bangsa Yahudi” (ektrim kanan) telah selesai dengan 47 suara setuju, dan 34 suara menolak.
Dukungan juga datang dari pemerintah yang didominasi oleh ekstrim kanan. Namun hal itu ditentang oleh partai-partai Arab dan dua partai, yaitu “Meretz” dan “Kadima”. Sementara para wakil dari partai “Buruh” (kiri tengah-yang turut dalam pemerintahan) memilih abstain selama voting.
Undang-undang itu menetapkan bahwa “setiap ekspresi penolakan terhadap negara Yahudi yang menimbulkan kebencian, penghinaan, atau ketidaksetiaan kepada negara dan lembaga-lembaga negara dianggap sebagai tindak pidana yang dijatuhi sanksi kurungan penjara selama beberapa tahun”.
Kami Tidak Akan Pernah Mengakuinya
Perwakilan bangsa Arab di Parlemen Israel (Knesset), Ahmad Tibi setelah mengikuti ratifikasi peraturan perundang-undangan tersebut berkata: “Kami tidak akan pernah mengakui negara untuk Yahudi dan Zionis, meski demi penolakan ini kami harus membayar dengan diri kami”.
Seorang anggota Parlemen, Dr. Jamal Zahalka menilai undang-undang tersebut sebagai undang-undang rasis dan menghancurkan prinsip-prinsip serta hak-hak demokratis yang paling dasar. Dengan undang-undang itu berarti akan memenjara setiap orang yang menuntut demokrasi yang sesungguhnya dalam lingkaran negara terhadap semua warga, dan penerapannya berarti hukuman penjara bagi puluhan dosen, intelektual, dan politisi berkebangsaan Arab dan Yahudi, yang mengajukan rancangan alternatif bagi negara Yahudi, misalnya negara untuk semua warga dan negara binational (dwi kewarganegaraan).
Zahalka menambahkan bahwa dengan undang-undang tersebut polisi dituntut untuk selalu memata-matai dan mengawasi berbagai pemikiran, serta menganalisa apa yang ditulis masyarakat di koran dan buku-buku untuk menghukum mereka jika pemikiran mereka tidak sejalan dengan pemikiran negara Yahudi.
Bahkan dia menantang para anggota parlemen ekstrim kanan dengan mengatakan: “Bagaimanapun kalian berjalan dengan undang-undang tersebut, kami tidak akan pernah mundur dengan sikap kami terhadap negara dan semua warga negara. Kami akan terus menentang (negara Yahudi) yang membantu Zionisme. Dan kami akan terus berjuang melawan Zionisme, berapapun biaya yang akan kami bayar”.
Kami akan tetap menjadi duri di dada kalian
Setelah voting berlangsung terjadi perselisihan tajam antara anggota parlemen, Zahalka dengan para anggota parlemen ekstrim kanan dari partai Likud, Persatuan Nasional, dan Rumah Bangsa Yahudi. Mereka menyebut Zahalka sebagai “teroris”.
Sementara Zahalka menuduh pihak pemerintah dan partai-partai pendukungnya dengan rasisme. Zahalka berkata: “Kalian mengajukan undang-undang rasisme setiap hari…. Pemerintah kalian adalah obsesi pemerintah rasisme”.
Seorang anggota parlemen, Arieh Eldad berteriak: “Jika anda sudah tidak suka dengan situasi di sini, silakan anda keluar dan pergi”.
Zahalka membalasnya: “Kami warga asli, kami penduduk negeri ini. Sedangkan kalian dan orang-orang seperti anda adalah para imigran di negara kami …. Kami akan tetap menjadi duri di dalam dada dan tenggorokan kalian”.
Setelah perselisihan semakin tajam dan memuncak, Ketua Knesset menjauhkan Zahalka, dan mengabaikan teriakan dan pelecehan para anggota parlemen ekstrim kanan.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Biro Pusat Statistik Israel pada tangga 27 Mei 2009, jumlah penduduk Israel adalah 7,4 juta jiwa. 75,5% orang Yahudi dan 20,2% orang Arab, di samping itu ada warga yang disebut dengan “orang lain”, mereka adalah para imigran dan keturunannya, mereka tidak terdaftar di Departemen Dalam Negeri Israel sebagai orang Yahudi, jumlah mereka mencapai 4,3%.
Komentar:
Negara entitas Yahudi tak bosan-bosannya melakukan terosisme dengan beragam cara sejak tahun 1948 kepada warga Palestina, termasuk undang-undang yang baru ini.
Bukan rahasia lagi tentang pernyataan bahwa mereka menunggu kesempatan untuk mengusir semua warga Palestina sejak tahun 1948, sehingga yang tinggal di Israel murni semuanya orang-orang Yahudi.
Dan mereka tidak akan berani melakukan semua itu, selama mereka masih mendapatkan orang-orang yang mencegah, menentang, atau orang-orang yang membuat mereka takut dan khawatir.
Tetapi yang mereka perlihatkan adalah sikap semakin ramah dan menuntut kasih sayang dari para penguasa kaum Muslim…. Mereka melihat kedua tangan para penguasa diulurkan kepada mereka dengan penuh kehinaan dan kerendahan. Sehingga dengan sikapnya itu mereka tidak ubahnya menjatuhkan diri mereka sendiri di bawah sepatu untuk diinjak-injak oleh entitas Yahudi.
Kami memohon kepada Allah SWT semoga entitas Yahudi ini segera dilenyapkan, begitu juga entitas-entitas yang berkuasa di negeri-negeri Islam, sehingga tempat Isra’nya Rasulullah SAW ini kembali lagi ke pangkuan Islam, di bawah naungan Negara Islam, yaitu Daulah Khilafah Rasyidah. Dan ingatlah, bahwa untuk mewujudkan semua itu tidaklah sulit bagi Allah SWT. (al-aqsa.org)
Read all and give comment please...





