Hudoyberdiyev Aktivis Hizbut Tahrir Akhirnya Syahid Ditangan Rezim Bengis Uzbekistan Karimov

03 Juni 2009


Setelah dipenjara dan mengalami penyiksaan yang sangat keji oleh rezim bengis Uzbekistan Karimov, seorang anggota Hizbut Tahrir yang bernama Ismat Hudoyberdiyev, 52, akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir di Penjara Zarafshon No. 64/48. Lembaga Aktivis Hak Asasi Manusia Uzbekistan juga melaporkan hal yang sama seperti yang dinyatakan media Uzbekistan. Kematian Ismat Hudoyberdiyev itu telah menambah bilangan syuhada pejuang Khilafah di Uzbekistan seperti Farhad Usmanov yang telah syahid sebelumnya.

Lembaga Hak Asasi Manusia menerima informasi yang menyatakan Ismat Hudoyberdiyev yang berasal dari Daerah Surhandarya telah menjalani hukuman itu sejak tahun 2002, dan akhirnya meninggal dunia akibat daripada penyiksaan yang dilakukan terhadapnya .

Bagi isterinya, Musharraf, ini adalah kali kedua dia kehilangan suami yang sama-sama syahid di jalan dakwah untuk memperjuangkan Khilafah. Musharraf sebelumnya menikah dengan Farhad Usmanov yang kemudian syahid akibat kezoliman Karimov. Usmanov, anak seorang imam besar Uzbekistan ,mempunyai enam orang anak. Dia ditangkap ketika berusia 42 tahun pada musim panas tahun 1999, atas tuduhan menjadi anggota Hizbut Tahrir. Setelah ditangkap dia dipenjarakan kementerian Dalam Negeri di Tashkent. As Syahid Usmanov disiksa hingga syahid pada hari ke-11.

Pada tahun 2002, Musharraf (janda Usmanov) menikah dengan Ismat Hudoyberdiyev. Dia juga ditangkap pada tahun yang sama. Setelah beberapa bulan menunggu, Musharraf telah meminta bantuan Lembagah Hak Asasi Manusia karena merasa kawatir keselamatan suami keduanya yang kemungkinan disiksa dan dibunuh, sebagaimana Farhad Usmanov.

Ia mengatakan kepada organisasi tersebut, bahwa dia tidak dapat menghubungi suaminya selama enam bulan . Pihak penjara mengatakan kepadanya Hudoyberdiyev telah dimasukkan ke dalam penjara.

“Dia berkata, dia telah menyadari pegawai penjara telah menyiksa suaminya secara sistematis, dan dia membuat laporan kepada jaksa umum dan direktur kriminal Kementerian Dalam Negeri Uzbekistan, namun dia tidak menerima informasi sedikitpun,” kata Lembaga Hak Asasi Manusia .

Kini, tanggungjawab mengasuh dan membesarkan sembilan orang anaknya yang masih di bawah umur terletak di bahu Musharraf. Insya Allah dia termasuk ke dalam kelompok para isteri solehah yang terus berjuang setelah kehilangan suami untuk selama-lamanya akibat perbuatan zalim Islam Karimov. Sesungguhnya ganjaran yang menanti para wanita sholehah adalah syurga Allah.

Demikianlah betapa beratnya ujian yang dihadapi oleh para pengemban dakwah di bumi kelahiran Imam Bukhari. Para penyebar risalah dakwah yang ikhlas telah dibunuh dengan kejam tanpa perikemanusiaan oleh rezim penguasa yang korup. Masalah ini sudah semestinya menjadi agenda utama umat Islam seluruh dunia saat ini. Sebab, orang-orang mukmin itu adalah bersaudara di antara satu dengan lainnya. Kaum muslim wajib membebaskan saudara mereka dari kezaliman penguasa yang jahat.

Ujian dakwah seperti ini bukanlah sesuatu yang baru di dalam perjuangan dakwah. Setiap perjuangan dakwah pasti akan diuji oleh Allah SWT dengan pelbagai rintangan sebagaimana juga dakwah Rasulullah SAW dan para sahabat ketika mereka berada di Mekah. Pada saat itulah kemenangan dakwah semakin jelas dan hampir. InsyaAllah, hal yang sama akan terjadi pada zaman ini.

Islam tidak akan dapat dilenyapkan walaupun para pejuangnya dibunuh. Justru, para mukhlisin (orang-orang yang ikhlas) yang memperjuangkan penegakkan Daulah Khilafah akan dapat melihat dengan nyata bahwa pertolongan Allah semakin dekat. Sehingga tibalah masanya, Khilafah Rasyidah kali kedua kembali didirikan dan memancarkan cahaya Islam ke seluruh alam. Insya Allah (www.mykhilafah.com)

Read all and give comment please...

Amerika Musuh Utama Umat Islam


Amerika dengan pemerintahan Obama melancarkan serangan sapu bersih terhadap sebagian besar negeri-negeri Islam dan umat Islam. Amerika mengobarkan perang saudara, menekan para penguasa anteknya agar menerapkan politik agresi dan permusuhan Amerika, dan mempermainkan urusan-urusan politik dalam dan luar negeri di negeri-negeri Islam yang lain.

Di Pakistan, Amerika telah berhasil melibatkan pasukan Pakistan dalam perang melawan Taliban secara komprehensif. Dalam merealisasikan tujuannya, Amerika dibantu oleh komandan militer dan presiden Pakistan, dimana keduanya menyatakan perang yang akan berlangsung lama terhadap gerakan Taliban.

Dengan mengobarkan perang saudara di Pakistan, maka terjadilah bencana lain yang membuat rakyat Pakistan terus menderita, jutaan rakyat Pakistanis lari dari lembah Swat, sehingga kamp-kamp pengungsi tidak lagi mampu menampung mereka, bahkan organisasi dari PBB mengumumkan terjadinya krisis kemanusiaan yang tidak menutup kemungkinan akan menjadi malapetaka kemanusiaan yang luar biasa.

Para petinggi Pakistan bukannya meninggalkan ketidakadilan, menghentikan peperangan, dan menolak pendiktian, serta campur tangan Amerika untuk kepentingan rakyat mereka, justru mereka semakin jauh melakukan ketidakadilan, bahkan mereka menuntut lebih banyak dukungan militer Amerika dan militer Inggris untuk terus melancarkan peperangan. Untuk itu, Zardari menandatangani strategi pakta pertahanan di London, dengan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, serta meminta kepada Amerika untuk menambah pesawat-pesawat pengintai tanpa awak untuk membombardir benteng-benteng gerakan Taliban.

Di Somalia, Amerika Serikat, negara-negara Afrika, dan negara-negara Arab mendukung sikap Presiden Somalia, Syarif Sheikh Ahmed ketika mengumumkan perang melawan Gerakan Pemuda Mujahidin dan Partai Islam. Dalam sepuluh hari saja telah membunuh puluhan warga. Bahkan perang saudara di Somalia yang didukung oleh Amerika masih terus melayangkan nyawa-nyawa warga. Sehingga, penderitaan demi penderitaan terus membayangi rakyat Somalia, padahal selama ini mereka telah diselimuti penderitaan yang disebabkan oleh peperangan, kemiskinann, dan kekeringan.

Di Palestina, dan di sekitar negara-negara Arab, Perdana Menteri Negara Yahudi mengadakan perjalanan di Sharm el-Sheikh dan Amman. Anehanya, ia disambut dengan penuh kehangatan, padahal ia terang-terangan menolak semua solusi damai dengan mereka, para penguasa. Tentu pemandangan memalukan itu tidak akan pernah terjadi, seandainya tidak ada tekanan dari Amerika terhadap mereka, para penguasa pengkhianat itu agar menyambutnya. Bahkan, Amerika melalui Obama menuntut semua negara Arab dan negara yang ada di dunia Islam agar menormalisasi hubungan dengan entitas Yahudi sebagai prasyarat untuk mencapai apa yang disebut dengan proses perdamaian.

Sesungguhnya permusuhan Amerika yang terang-terangan terhadap kaum Muslim ini harus disikapi dengan permusuhan yang sama. Sehingga tidak boleh mengikuti apa yang didektikan oleh Amerika, dan tidak boleh memperlihatkan keramahan apapun kepada Amerika dan sekutunya yang telah banyak membuat problem-problem besar di tengah-tengah umat Islam.

Memperlihatkan permusuhan, mengobarkannya, dan menanamkannya merupakan perkara yang mungkin dan mudah. Kami melihat negara-negara Amerika Latin saja bisa membangun permusuhan terhadap Amerika Serikat, dan sukses hingga dalam beberapa hal mampu menghentikan agresi Amerika di Amerika Latin.

Termasuk paradok politik yang mengherankan bahwa negara-negara yang tidak mengenal Islam dan tidak mengenal ideologi besar berhasil membangkitkan rakyatnya untuk melawan dan memusuhi Amerika, sementara negara-negara yang ada di dunia Islam yang sedang mengalami kelumpuhan yang kronis belum mampu mengambil inisiatif untuk melawan arogansi Amerika. Lihatlah Burma – Myanmar – yang menghakimi pemimpin oposisi, Aung San Suu Kyi dengan tuduhan berkomplot dengan Amerika hanya karena ia bertemu dengan para utusan AS di rumahnya ketika ia dikenakan tahanan rumah.

Sesungguhnya yang harus dilakukan umat Islam adalah membangun kembali sikap permusuhan terhadap Amerika dan itu dilakukan dengan serempak sehingga menjadi opini umum di tengah-tengah umat Islam bahwa Amerika adalah musuh utama yang senantiasa mengancam kehidupan mereka semua. (mb/al-aqsa.org)

Read all and give comment please...

Directives (15)

15. Extraordinary Incidents
2008/09 Directives

Incidents occur, in or connected with football matches, that are likely to be the focal point for media attention, their enquiries and subsequent headlines, or which require The Football Association to investigate and, where appropriate, take further action.

In such situations it is essential that, in order to be able to respond appropriately and quickly, The Football Association has:

* An initial report from the Referee and, where appropriate, the match assessor/observer within two hours at the end of a match where the kick-off is in the morning or afternoon, or before 09.00hrs the next morning following an evening kick-off.
* An indication of where the Referee may be contacted immediately for further details (assistant referees and match assessor/delegates if appropriate to the incident) and also during the following 24 hours

A detailed report must include:

* The nature of the incident
* An indication of those involved (players/spectators)
* The responsible officials at the Club/Police Commander/Security Officer where appropriate
* Any known action being taken by the Club/Authorities


Read all and give comment please...

Directives (14)

14. Mass Confrontation
2008/09 Directives

The following guidelines should be adopted in the event of mass confrontation situation:

Assistant Referees

* The Assistant Referees should quickly adopt the most appropriate viewing position of the incident
* At the conclusion of the incident the assistant referees should be prepared to offer assistance to the referee confirming the identify of players involved, their location and any other relevant information
* The assistant referee patrolling the touchline where the technical area is located may have additional problems with the occupants of the technical area. The first priority should be the on-field incident


Referee

* The Referee should avoid jumping in but stand back and observe the incident
* Players who are seen to be striking, kicking or acting aggressively should be identified as opposed to those who are clearly trying to separate the offenders
* Once the confrontation has subsided and before the game has restarted, the referee should consult with the assistant who has been observing the incident. He may consult with both assistants before taking any disciplinary action
* The required disciplinary action should then be taken. Offending players should be moved to a position where all the other players can still be observed. Where action requires the dismissal of two or more players ensure they leave the field of play individually to prevent further misconduct
* The Football Association expects that your priority should be to identify and punish accordingly:
o The instigators
o Any player whose action clearly escalates or inflames the situation

Fourth Official

* The fourth official assists the referee at all times
* In the event of mass confrontation the fourth official’s priority should be the conduct of the occupants of the technical area
* At the conclusion of the incident the fourth official should bring to the attention of the referee anything he may wish to report


Read all and give comment please...